Posts

Usup Tak Pernah Dapat BLT

Image
Namanya Usup (55). Bukan hanya namanya yang pendek, rejekinya pun sampai saat ini masih pendek. Tak pernah ada bantuan pemerintah bernama BLT mampir di rumahnya. Minggu (25/5) siang, saat saya bertamu ke rumahnya, dia bersila di lantai rumahnya yang seluruhnya dari kayu. Warna biru cat rumah itu sudah kusam. Berbeda dengan rumah di kanan kirinya yang seluruhnya terbuat dari tembok semen dan bercat oranye cerah. Siang itu, perangkat kerjanya berhamburan. Ember hitam berisi air, besi penjepit, satu kotak berisi perangkat reparasi motor, dan ban bekas yang dipotong kecil-kecil. Usup menjalani hidup dengan matapencaharian sebagai tukang tambal ban. Di beranda rumahnya yang hanya seluas 1,5 x 4 itu, dia menerima orderan tambal ban. “Kadang jika kosong, saya mengojek juga. Hanya di depan sini saja,” ujar Usup sambil menunjuk sebuah sepeda motor Honda tua. Plat nomornya bahkan sudah kadaluwarsa. Usup mengaku tak ada biaya untuk perpanjangan surat-surat kendaraan itu. Dalam satu hari, kadang ...

Katanya, Lelah Jadi Wartawan...

Hampir lima tahun tak bersua, akhirnya saya bertemu dengan seorang kawan lama di kereta api saat perjalanan pulang dari Purworejo-Jakarta. Nostalgia pun mewarnai pertemuan kami saat itu. Saling mengenalkan anak-istri kami, tukar kartu nama, basa-basi, dll. Di tengah perbincangan tiba2 sebuah ucapan mengejutkan terlontar dari mulut kawan tsb. "Saya sudah lelah jadi wartawan, Wan," katanya. "Gila!," pikir saya dalam hati. Ada apa gerangan dengan kawan saya ini? Padahal dia sudah eksis di dunia tulis menulis sejak awal tahun 90-an. Saya pun tahu betul semangat kawan ini, dan bagaimana dia mampu menjelajah dari desk yang satu ke desk lainnya, semua dilahapnya. Multi tasking banget! Perbincangan semakin memanas hingga akhirnya kami memutuskan melanjutkan obrolan di sambungan gerbong kereta. Spot paling ciamik untuk melanjutkan obrolan berpadu dengan berbatang-batang rokok. Intinya, profesi kuli tinta yang dulu dibanggakannya kini tak lagi memberikan kepuasan batiniah-ny...

Bentuk Dasar Penulisan Sejarah Islam

Image
Makalah ini saya susun ketika masih kuliah di Jurusan Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada tahun 2004. Terimakasih saya sampaikan kepada dosen pengampu mata kuliah Historiografi Islam, ibu Herawati, atas pelajarannya tentang sejarah dan kehidupan umat. Jubah besar warna gelap, dipadu jilbab lebar menutup seluruh badan yang sering ibu kenakan, masih lekat di benak saya. *** SEJARAH ditulis un tuk mengingat masa lalu, mengambil peringatan dan ibrah yang dapat disingkap melalui pembacaan komprehensif. Dalam lintasan waktu, Islam sebagai sebuah entitas religius dalam komunitas insani telah meninggalkan warisan panjang berupa historiografi. Islam sangat menghargai sejarah, bahkan ayat-ayat al-Quran yang merupakan kitab suci dan komponen introduksi fundamental bagi d oktrin agama, mayoritas berisi kisah-kisah masa lalu, baik tentang para nabi, umat-umat beriman, kaum yang ingkar, ba hkan penentang agama macam Fir’aun, Hamman dan Jalu...

Lelaki dan Perempuan

Image
Di mata orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan; bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan langit. Apabila bumi kekurangan panas, langit mengirimkannya; apabila ia kehilangan embun dan kesegaran, langit memperbaruinya. Langit berkeliling, laksana seorang suami yang mencari nafkah demi istrinya. Sedangkan bumi sibuk mengurus rumah tangganya; ia merawat yang lahir dan menyusui apa yang telah ia lahirkan. Anggaplah bumi dan langit sebagai makhluk yang dianugerahi kecerdasan, karena mereka melakukan pekerjaan makhluk yang memiliki kecerdasan. Jikalau pasangan ini tidak merasakan kebahagiaan antara satu dan lainnya, mengapa mereka melangkah bersama laksana sepasang kekasih yang saling mencinta? Tanpa bumi, bagaimana bunga dan pepohonan akan tumbuh? Lalu, air dan panas langit akan menghasilkan apa? Karena Tuhan meletakkan gairah dalam diri lelaki dan perempuan, maka lewat persatuannya dunia terselamatkan. [] -----Jalaluddin Rumi

Jangan Mengemis, Nak! Itu Hina...

SEBUAH ruang di pojok belakang lantai dua Kompleks Pasar Lima Atas Banjarmasin. Ruang itu berukuran 7 x 6 meter, bercat biru di pintu dan pinggir jendelanya. Di samping kanan kirinya, berjajar kios yang kotor dan berjejal barang bekas. Di depan pintu masuknya ada penjahit yang mengerjakan ratusan lembar karung plastik. Di pintunya tertempel stiker “Prestasi Yes, Narkoba No!”. Itulah sekolah khusus anak jalanan, satu-satunya di Banjarmasin. Tadi pagi, aku menyambanginya. Untuk mencapai tempat itu, harus melewati kios pedagang yang berjejal di bawahnya. Ketika hujan turun seperti sekarang, hampir tak ada tempat yang tidak berlumpur. Meskipun tadi lantainya bersih, tetap dikotori lumpur yang dibawa alas kaki para pedagang dan pengunjung pasar. Setiap pagi, kecuali Minggu dan hari libur, belasan anak memenuhi ruangan yang berisi 30 meja dan kursi itu. Tata ruangnya benar-benar seperti sekolah dasar pada umumnya. Ada papan tulis di depan kelas, beberapa gambar pahlawan dan jadwal pelajaran...

Awalnya Video Mantenan

Tertatih-tatih, Hasbi melangkah di Pelabuhan Trisakti. Raut mukanya menunjukkan keletihan. Kuyu tak ada gairah hidup. Untung ada teman-teman sekolahnya seperti Ajay, Yudi, Andre dan Ian. Mereka menjadi ‘obat’ bagi Hasbi melupakan ketergantungannya pada narkoba. Transformasi hidup lantas dilakukan Hasbi. Dia tekun mendalami agama. Menjadi seorang santri. "Aku ingin hidup normal. Aku ingin menikmati hidup tanpa menjadi budak narkoba. Hidup yang indah dan penuh warna," kata Hasbi. Sebuah film pendek. Durasinya hanya 26 menit. Sebetulnya lumayan panjang dibanding short film yang lain. Judulnya Save Me Diary , berkisah tentang seorang anak bernama Hasbi yang kena candu narkoba. Sampai masa pertobatan melalui sebuah pesantren di Banjarmasin. Film itu ditampilkan dalam sebuah even bernama 3 Cities Short Film Festival yang digelar di Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basry, tepat di seberang kampus Universitas Lambung Mangkurat pada Kamis dan Jumat, 20-21 Maret 2008 lalu. Even itu ...

Temukan Candumu

Siang terik. Matahari menggigit. Usai liputan di lapangan yang menguras keringat, aku kembali ke kantor. Hendak naik ke lantai empat ruang redaksi. Bayanganku, ruang ber-AC yang sangat nyaman akan mengelus kulit dengan kesejukan. Sepatu kets, celana jins dan kaos berkerah kukenakan. Berjalan cepat menuju lift. Di depan pintu lift, ada bos yang juga mau naik. “Enerjik sekali kamu hari ini,” katanya. “Biasalah pak, baru mood,” balasku. Lalu kami masuk ke dalam. Hanya kami berdua. Matanya memandang ke diriku, dari atas ke bawah lalu tersenyum. “Kamu mesti segera menemukan candumu. Hidup itu butuh motivator, penyemangat. Kalau belum kamu temukan, gaya enerjikmu itu akan cepat luruh,” lanjutnya. Aku terdiam sampai lift merambat naik dan pintu terbuka. “Ingat itu, segera temukan candumu,” lanjut bos sambil melangkah keluar. Meninggalkan aku dalam ketermanguan. Pendek, hanya dua menit mungkin. Tapi, kata-katanya itu berbekas dan jadi pemantik renunganku. Benar kata bos, candu itu dibutuhkan. ...