Posts

Mulai Menulis Lagi

Seorang penyair tidak akan menulis bait-bait syair ketika tak ada gundah di hatinya. Musisi kritis model Iwan Fals juga tidak akan berkarya jika tak ada gulana dalam sanubari. Tidak ada balur cat di tubuh kanvas pelukis jika dia sudah mati rasa terhadap keadaan sekelilingnya. Kepekaanlah yang menuntun seorang mencipta karya. Dan, saya merasa semenjak tidak bekerja lagi sebagai wartawan, kepekaan saya menjadi surut ke belakang. Akhir-akhir ini saya merasa berdosa saat menengok rumah lama yang satu ini. Sama sekali tidak pernah saya sentuh sejak September 2008. Genap lima bulan berlalu, tak ada pembenahan apapun pada bangunan maya ini. Banyak kawan bertanya kenapa tidak ada posting apapun di blog ini. Lama-lama saya merasa risih juga, terlebih ketika membaca tulisan saya sendiri Mandul Setelah Menikah . Sejak menikah usai Lebaran kemarin, memang saya sangat jarang menulis untuk blog. Pernikahan memang membawa konsekuensi panjang. Awalnya adalah urusan teknis pernikahan seperti surat-sura...

Kembali Fitri, Ampuni Kami

Image
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Kembali ke Fitri, Ampuni Salah Kami. ORANG hidup punya dua salah, pertama terhadap Tuhannya, kedua kepada sesama manusia. Dosa kepada Tuhan, sangat mudah diampuni. Karena dalam perspektif agama apapun, Tuhan adalah sosok Mahapengampun, Mahapenyayang dan Mahapengasih. Selalu ada ruang kembali bagi manusia yang bersalah. Tuhan selalu sediakan kabin untuk pertobatan di kapal besar kehidupan, agar manusia steril kembali dari dosa hingga dermaga keabadian. Sementara, jika dosa itu terhadap sesama manusia, pengampunan kadang susah didapat. Banyak manusia yang tak mau melepas masa lalu, sebagian juga selalu mengungkit salah dan dosa orang lain. Mengikhlaskan salah orang lain terhadap diri kita teramat sulit. Apalagi, salah itu membuat batin teriris. Lidah yang tajam sering membuat salah. Karena itulah, menjelang Idul Fitri 1429 H ini, ijinkan saya, Amin Sudarsono, meminta ampun atas segala salah, dosa dan khilaf yang sud...

Lebih Mulia Tangan Hitam Melepuh

Image
SUATU hari, Rasulullah berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan orang miskin. Beberapa sahabat yang hampir semuanya bekas budak, ada di sana. Mereka adalah Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabbah dan Suhayb Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka lusuh, jubah bulu yang kasar. Meski miskin dan papa, mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam. Tiba-tiba, serombongan bangsawan yang baru masuk Islam, datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya. Mereka berkata kepada Nabi, “Kami mengusulkan agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah Arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka Anda.” Uyainah bin Hishn—salah satu ba...

Lelap Usai Berkarya

Image
Kelelahan adalah obat insomnia. Tukang kebun di Taman Pramuka Kota Bandung, terlelap usai menyapu bersih daun-daun dan sampah di taman itu, Minggu (21/9) siang. Tidur lelap di bawah pohon rindang beralaskan tikar pandan yang sudah sobek pinggirnya. Minggu siang di suasana bulan puasa, benar-benar syurga sesaat untuk pekerja penyapu taman itu. Tidur yang nikmat adalah kombinasi antara kepuasan hasil kerja dan suasana yang memadai. Tukang kebun itu, mendapatkan semuanya. Saat melihat bapak itu, saya tepekur lama. Berdiri di sampingnya sambil mengarahkan kamera beberapa kali. Dan, dia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran saya. Toh, mobil dan motor yang lalu lalang di jalan besar sekitar lima meter dari tubuh itu, sama sekali tidak menimbulkan kebisingan baginya. Lelap tetap menyelimuti. Bahagia, tenang, bersahaja, apa adanya dan menikmati yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya. Kesyukuran tiada habis akan apa yang diperoleh. Kepuasan atas hasil kerja dan karya, meski hanya onggokan d...

Nisan Tanpa Nama

Image
AWAL Ramadhan 1429 H ini, setiap sore menjelang magrib aku habiskan waktu di pemakaman. Ngabuburit menemani nisan putih yang berjajar rapi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung. Ternyata, bukan hanya kami, puluhan orang juga memenuhi tempat itu. Benar kata adikku, Bandung sangat minim ruang publik. Tak ada tempat berkumpul, bermain dan bercengkerama. Akhirnya, pemakaman pun dipilih untuk itu. Senja di pemakaman memang syahdu. Duduk di tangga tanah yang menghubungkan pemakaman pahlawan Islam dan Kristen, menatap mentari yang makin redup. Angin semilir mengelus pipi, membawa berita gembira tentang dunia akhirat. Berada di pemakaman, tentu mengingat akhir dari kisah hidup. Melihat patok nisan dan diam, berkelebat bayangan maut. Benar memang, mau Islam, Kristen, Jawa, Sunda atau Quraisy, tetap ajal menjadi akhir. Di tengah kompleks TMP, ada patung burung garuda disepuh dengan cat krom emas kehitaman. Tampak berwibawa, apalagi dikerangkeng dengan rantai besi di sekitarnya. Di bawah...

Duhai, Dahsyat Nian Maut Ini

TIBA -tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah, Ayah. Orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenangnya. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah d...

Nyawa, Takdir dan Kuasa Dokter

Pagi ini, Kamis (28/8), saya hunting foto untuk ilustrasi kesehatan. Akhirnya, masuklah saya ke sebuah rumah bersalin. Dengan menenteng kamera digital Canon S215, saya masuk ke ruangan pemeriksaan umum. Dokter perempuan berjilbab putih itu menyambut ramah. Saya jelaskan maksud kedatangan untuk mengambil foto. Tak lama kemudian, masuklah pasien ibu menggendong bayinya. Saat dokter sedang sibuk bertanya tentang nama dan identitas bayi, tiba-tiba seorang ibu yang lain, menggendong anaknya menyeruak masuk ke dalam ruang. "Dokter.., dokter, anak saya dok," suaranya menggesa. Tergopoh-gopoh, dokter berdiri mengambil anak kecil itu. Saya hanya berdiri kaku di pojok ruang pemeriksaan itu, melihat dokter tergesa mengambil stetoskop, meletakkan di dada si anak. Kulihat muka dokter memucat, raut khawatir sangat nampak di sana. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Saya ganti menatap si anak kecil itu. Wajahnya pucat sekali, sudah seputih kertas. Meski tidak seputih jilbab yang dipakaik...