Posts

Showing posts from March, 2007

Antara Milad Rasul dan Maulid KAMMI: Karena Sekarang Bukan Zaman Abrahah

Merupakan sebuah kebetulan yang terjadi di tahun 2007 ini. Peringatan ulang tahun kelahiran KAMMI yang terjadi setiap tanggal 29 Maret, diikuti selang dua hari dengan jatuhnya penanggalan Hijriyah 12 Rabi’ul Awwal, Maulid Nabi SAW. Maka refleksi kali ini akan mengkaitkan sisi sejarah dua hal itu: Milad Rasul dan Maulid KAMMI. Rasul dilahirkan sebagai pembawa pesan kebenaran, sementara KAMMI dilahirkan sebagai penegak kebenaran yang tercoreng oleh rezim penguasa. Gerakan anak muda yang ini cepat menjadi besar karena 1998 hanyalah momentum, sebelumnya telah ada fase sejarah yang mendewasakan KAMMI sendiri. Akar dari kemunculan anak-anak muda ini menurut Eep Saefullah Fatah (Catatan atas Gagalnya Politik Orde Baru, 1998) bisa dilacak sekurangnya tiga faktor. Pertama , ekses pendidikan politik Orde Baru yang tertutup yang menimbulkan banyak kekecewaan. Ketidakpuasan terhadap mekanisme pendidikan yang tertutup di awal-awal Orde Baru, membuat mereka banyak menggali dan mencari di luar jatah...

Mengiringi Habib Nabil Fuad al-Musawa

Image
Beruntunglah diriku, hari Ahad pagi (25/03) kemarin memperoleh kesempatan membersamai salah seorang dari keturunan Rasulullah SAW. Dalam kapasitas sebagai jurnalis, aku bisa mewawancarai beliau. Bahkan sempat sarapan bersama di sebuah kedai yang menjual makanan khas kota Kandangan yaitu ketupat. Tidak perlu banyak kata, inilah tulisanku yang akan dimuat hari Rabu di Radar Banjarmasin (semoga tidak banyak diedit...). Beliau adalah Habib Nabil Fuad al-Musawa. Keturunan ke-38 dari Rasulullah, cucu keponakan Habib Muhsin bin Ali al-Musawa yang menjadi pendiri Ma’had Darul Ulum, tempat ramai mengajinya para ulama Indonesia di Makkah al-Mukarramah. Wajah yang kental dengan aura Timur Tengah itu menyorotkan keteduhan bagi siapa saja yang menatapnya. Suaranya yang tegas ditambah senyum yang selalu mengembang menjadikan kharisma otentik seorang habib dari sosok ini. Beruntunglah masyarakat di Kayutangi yang memperoleh kesempatan berjumpa dengan sosok Habib Nabil. Tausiyah dan ujaran-ujaran Hab...

Siapa Ingin Sekolah Lagi?

Image
Sekolah adalah candu, kata Roem Topatimasang. Buku kecil itu aku baca saat SMA kelas dua, aku dapatkan dari ketua PMII Komisariat Undip, kawan satu pesantren. Inti buku itu adalah bahwa, pertama , sekolah terlampau formal, sempit, ketat dan terbatas. Kedua , sekolah punya kultur yang feodal dan otoriter. Sekolah lantas hanya didefinisikan sebagai proses belajar dalam sebuah lembaga pendidikan yang formal dengan seperangkat aturan yang ketat dan kaku. Padahal, sekolah sebenarnya bisa didefinisikan secara lebih luas sebagai suatu proses belajar dalam kehidupan semesta ini. Sekolah adalah seluas kehidupan itu sendiri. Begitu salah satu tesis buku sederhana ini. Namun, sekolah--dalam pengertian kelas-kelas, buku-buku dan guru-guru--juga alat untuk berhasil. Setidaknya untuk menghadapi dunia ke depan, pengetahuan yang diwariskan dalam institusi "candu" itu bisa digunakan sebagai senjata dalam kompetisi. Perlombaan mendapatkan pekerjaan, akses kekuatan, privelese, prestise atau ...

Fenomena Kekerasan Polisi

Image
Tulisan dimuat hari ini di Banjarmasin Post . Lihat Opini Dalam satu minggu terakhir, dua kali diberitakan tentang kekerasan aparat kepolisian. Tindakan yang dilakukan, di luar batas kewajiban dan perkara yang harusnya ditangani. Kasus yang bisa dicatat adalah pengeroyokan polisi terhadap warga di Paringin (Balangan) dan yang terakhir penembakan oleh Briptu Hance Christian terhadap atasannya Wakil Kepala Polwiltabes Semarang, AKBP Lilik Purwanto. Fenomena kekerasan polisi ini pantas menjadi renungan bagi kita. Tugas utama polisi adalah melindungi dan mengayomi masyarakat, namun kenapa pelanggaran justru terjadi oleh aparatnya sendiri? Tentunya bukan secara institusional kepolisian yang bersalah, tetapi keberadaan personil yang melakukan kriminal tersebut telah mencoreng nama baik korps. Dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri, antara lain menetapkan kedudukan Polri sebagai alat negara yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang kepolisian preventif dan represif dalam rangka criminal...

Berita Duka

17.03.07 10:35 "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah meninggal dunia pengasuh Ponpes Hasyim Asyari, KH. Zainal Arifin Thoha (Gus Zainal), Rabu 14 Maret karena sakit jantung." demikian bunyi sms dari seorang kawan. Zainal Arifin Thoha adalah seorang sastrawan, budayawan, agamawan dan kolumnis yang sangat produktif. Karyanya banyak dipublikasikan dalam berbagai media massa. Selain itu, Gus Zainal juga memotori berdirinya penerbitan buku-buku sastra klasik melalui penerbit Navila. Sempat juga mendirikan sebuah majalah sastra pesantren bersama kawan-kawan santri. Di wilayah gerakan, Gus Zainal pernah menjadi Wakil Ketua GP Ansor DIY. Perhatian terhadap pengkaderan mahasiswa, beliau wujudkan dengan menjadi pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asyari. Ponpes ini, pertama berlokasi di bilangan Karangmalang Yogyakarta, persis di belakang kosku dulu di Blok E-22 Karangmalang. Mungkin untuk mendekatkan santri pada kultur pesantren yang asli, lokasinya dipindah ke daerah...

Nonton Film Bareng

Image
Siang tadi, ada pemutaran film reformasi di gedung Trisakti, Distako Kota Banjarbaru. Film yang entah sudah berapa kali aku tonton: Tragedi Mei 1998. Film ini memang mampu membuat penontonnya terkoyak-koyak hati melihat brutalisme aparat dan merenung tentang heroisme gerakan mahasiswa. Kawan-kawan "kiri" memang lihai untuk membuat hal-hal seperti ini. Bagaimanapun, sisi propaganda dominasi peran Forkot sangat nampak di film ini. Namun, bukan itu yang hendak kami diskusikan. Kebetulan, dua komisariat besar di Kalimantan Selatan akan mengadakan Musyawarah Komisariat, yaitu Banjarmasin dan Banjarbaru. Untuk KAMMI Banjarbaru, akan mengadakan besok pagi. Sebagai rangkaian acara, diadakan pemutaran film dan donor darah. Pemutaran film tadi pagi, diriku sebagai pembedah dan narasi proof-narasi memberikan sedikit refleksi tambahan dengan sebuah makalah: "Gerakan Mahasiswa Mau Kemana?". Setelah reformasi memang terjadi kegamangan gerakan. Enam visi Reformasi, yaitu: (1) Ama...

Mari Belajar Menulis

Image
Tidak ada mimpi muluk-muluk. Kami hanya ingin agar menulis menjadi tradisi, pengetahuan diwariskan dengan buku dan nilai-nilai kebaikan terjaga dalam manuskrip. Kami juga pernah mendengar sebuah pepatah Yunani kuno, verba valent scripta manen t, bahwa ucapan akan hilang oleh waktu sementara tulisan akan lestari. Karena itulah kami duduk melingkar di sini. Berbincang tentang jurnalisme dan kepenulisan. Tentang sastra dan fakta. Tentang berita dan feature. Setiap hari Jumat sore bertempat di sebuah taman, di depan gedung Rektorat IAIN Antasari Banjarmasin, kami berkumpul untuk berdiskusi. Ada lima belas orang yang aktif mengikuti kegiatan ini. Mayoritas mahasiswa IAIN Antasari, dan beberapa dari Universitas Lambung Mangkurat. Hari Jumat kemarin (16 Maret 2007), kami berkumpul kembali. Hanya masalah nama belum dituntaskan. Ada usulan nama Bengkel Jurnalistik Mahasiswa Profetik (BJM-P), ada juga yang mengusulkan nama Forum Jurnalis Mahasiswa (FJM), juga Balai Jurnalistik Profetik (BJP). Na...

Bahkan Wakil Walikota Ikut Push Up

Image
Hari ini ada kesibukan besar di antara para sahabatku. Pagi tadi aku masuk ke ruangan, mereka sedang menggelar sebuah dome (tenda plastik warna-warni). Di sudut ruangan ada tali besar yang biasa untuk repling, setumpuk zak plastik, megaphone, obat-obatan dan perlengkapan P3K. Kaos seragam warna coklat dengan tulisan Pandu Keadilan di punggung, betebaran di lantai. Ternyata, besok pagi para sahabatku ini akan berangkat menuju Desa Malinau, Loksado. Sebuah desa pegunungan dan hutan yang masuk kabupaten Hulu Sungai Selatan. Mereka akan mengikuti acara yang bernama Mukhayyam Pandu Keadilan Menengah I yang dikoordinir oleh deputi Kepanduan Partai Keadilan Sejahtera. Mukhayyam (perkemahan, bhs Arab) berisikan materi ketahanan fisik, juga game-game motivasi dan pembentukan kepribadian, dan pelatihan keterampilan khususnya dilapangan, mungkin dapat disamakan dengan kegiatan dalam Pramuka. Apa yang unik dari acara ini? Ternyata pesertanya adalah seluruh kader inti PKS. Tampak wakil walikota Ban...

Membersamai Ekonom Syariah Jogja

Image
Pagi hingga siang tadi aku membersamai Dr. Muhammad di EFA Guest House Banjarmasin. Aku memoderatori beliau dalam acara IKADI. Dr. Muhammad adalah seorang ahli ekonomi syariah dari Jogjakarta. Beliau salah satu ketua MUI DIY, juga Ketua STEI (dulu STIS) yang terletak di Kotabaru itu. Selain itu, beliau juga pengajar paskasarjana UIN Sunan Kalijaga dan IAIN Antasari Banjarmasin. IKADI (Ikatan Da'i Indonesia) PW Kalimantan Selatan mengadakan sebuah acara Mudzakarah Du'at bertajuk "Membedah Penyakit Riba dalam Tubuh Perekonomian Ummat". Peserta yang hadir dari seluruh ormas keagamaan Islam di Kalimantan Selatan (NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir) dan institusi keuangan Islam. Termasuk BNI Syariah, Asuransi Takaful dan beberapa BMT. Acara ini diadakan di EFA Guest House komplek Bun Yamin Kertak Hanyar, pinggiran kota Banjarmasin. Sebelum memulai materi, kekhasan Dr. Muhammad untuk bercerita tentang keislamannya. Ayahnya adalah Katholik Jawa sementara sang ibu beragama Kong...

Menengok KAMMI di Pondok Gede

Image
Aku datang ke Mukernas KAMMI jam setengah satu pagi dini hari. Acara di hotel Sultan sampai habis Isya, sesudah itu aku juga harus berbincang dengan lima teman. Agung Andri (Ketua KAMMI Pusat T-V), Widya Supeno (Ketua KAMMI DIY), Alif (Ketua KAMMI Solo) dan Udin (KAMMI Purwokerto). Sehingga agak terlambat ke Pondok Gede. Sengaja aku memilih naik angkot dan bis untuk menuju lokasi Mukernas. Selain karena ngirit , juga agar mengenal dunia malam Jakarta. Bersamaku adalah seorang sahabat dekat yang aku cintai: Syarifuddin. Kami bersahabat semenjak kelas satu SMA di Semarang dahulu. Lalu berlanjut di Jogjakarta, terakhir kami mendaki gunung Sindoro bersama-sama sebelum aku memulai petualangan ke Halmahera, Maluku Utara. Kawan satu ini sekarang sudah menjadi wartawan Seputar Indonesia . Jika anda membaca rubrik Internasional di halaman 9 koran Sindo , otaknya adalah kawanku ini. Bersama Udin, aku menelusuri jalanan Jakarta. Numpang mobil seorang kenalan, namanya pak Rico, sampai di depan hot...

Perjalanan Tujuh Kota

Image
Dibandingkan Jawa, Kalimantan memang raksasa. Perjalananku dua hari ini membuktikan. Membelah Kalimantan, menjelajah tujuh kota. Kebetulan ada kawan kuliah yang mengadakan resepsi pernikahan. Kawan satu organisasi dan sparing partner pemikiran. Bagi anda yang pernah mengenal, namanya adalah Mardhatina Diniy. Diniy menikah dengan seorang ikhwan yang berasal dari sebuah kota bernama Paringin, kabupaten Balangan. Sang mempelai lelaki bernama M. Zaki Mubarak. Mereka berdua sesama alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tepatnya jurusan Tafsir Hadits fakultas Ushuludin. Sebetulnya sudah mengadakan akad nikah pada November 2005, satu setengah tahun yang lalu. Karena adat Banjar yang agak rumit dan adanya urusan keluarga, akhirnya walimah atau resepsi baru bisa diadakan kemarin. Berikut cerita perjalananku. Berangkat dari Banjarmasin hari Kamis jam 15.00. Berjalan pelan menggunakan motor bersama seorang sahabat dekat semenjak masih di Jogja dulu: M. Arifiani. Melewati kota Banjarbaru lalu kota...

Ketika Akhir Pekan Datang

Image
Pagi tadi hari Minggu. Hari yang selalu dinantikan para pekerja seperti diriku. Satu hari penuh yang bebas kuisi apapun. Aku yakin, kita juga menunggu dengan tidak sabar hari yang bisa digunakan untuk refresh seluruh sendi dan urat syaraf yang tegang setelah seminggu bekerja. Jika masih di Jogja, maka toko buku atau gunung menjadi pilihan utama. Dua itu memang hobiku: membaca buku dan membaca alam. Sayang, kota Banjarmasin hanya berisi sungai, itupun kotor dan banyak sampah. Slogan kota Banjarmasin Bungas yang berarti Banjarmasin Cantik nampaknya jauh panggang dari api. Walaupun begitu, kulihat beberapa sudut kota mulai dibenahi. Adanya siring di pinggiran sungai Martapura yang dibuat taman sudah cukup indah. Tepat di seberang sungai, Masjid Sabilal Muhtadin nampak gagah di tengah kota, dilingkupi pohon-pohon tinggi yang teduh. Malam minggu aku ke depan kantor walikota Banjarmasin. Seberang jalan juga sudah dibangun taman kecil di bibir sungai yang lebarnya mencapai lima belas meter it...

Takziyah di Sarang Preman

Image
Sukariyanto bin Kidjan, aku baca tulisan di selembar kertas yang diletakkan di atas jasad jenazah itu. Diselimuti batik warna hitam kusam tubuh kaku itu membujur miring ke arah kiblat. Ustadzku beranjak mendekat, membuka penutup wajah dan mencium kening sang jenazah dengan takdzim . Wajah dengan jenggot tebal itu tersenyum tenang. Kami mengirimkan doa keselamatan dan kedamaian untuknya di alam barzakh . Malam Sabtu kemarin, selepas Isya bersama kawan-kawan halaqah , aku pergi ke rumah salah seorang saudara yang meninggal dunia. Almarhum adalah aktivis Partai Keadilan Sejahtera di tingkat ranting. Kegiatan terakhir adalah hari minggu kemarin saat ada pengobatan gratis. Menurut cerita para saudara yang lain, beliau masih bercanda dan makan bersama dalam satu lingkaran. Tidak ada tanda-tanda akan mendapatkan sakit. Banyak yang tidak percaya saat dikabarkan akh Sugi--demikian beliau biasa dipanggil--telah meninggal. Pagi itu beliau berangkat kerja ke Pal 6 (daerah ujung timur kota Banjarma...