Posts

Showing posts with the label Renungan

Apa Makna "Allahu Akbar"?

Image
Pemuda berbalut sorban kotak-kota hitam putih, biasa disebut kafiyeh. Tangan kanan memegang mushaf al-Quran kecil berwarna coklat, terbitan Beirut tampaknya. Mushaf itu diangkat tinggi. Kafiyeh menutupi separo wajahnya, hanya mata yang terlihat. Kedua tangannya diangkat tinggi, mulutnya lantang meneriakkan, "Allahu Akbar!" Pemuda itu, bersama puluhan kawannya menghadang tank Israel yang akan masuk ke Jalur Gaza. Ya, mereka adalah pemuda Hamas. Demonstran mahasiswa di Jakarta. Kerumunan ratusan orang memakai jas almamater kampus tercinta. Berdiri mengelilingi Bundaran HI, membawa bendera organisasi mahasiswa, bak panji perang mereka mengangkat tinggi-tinggi bendera itu. Spanduk dan round text dipegangi para demonstran wanita. Isinya tuntutan agar pemerintah menuunkan harga BBM dan harga pokok sembako. "Kita menuntut jika BBM tak kunjung turun harga, kita turunkan preside. Allahu Akbar!" teriak koordinator aksi. Kumpulan demonstran tak kalah semangat, mereka kepalkan ...

Rindu Ngeblog Lagi

Hahaha, malu sendiri lihat blog ini. Sudah 10 bulan tidak menulisinya. Terlalu asyik dengan Facebook, lupa menulis di blog yang sudah saya buat sejak 2007 ini. Facebook memang lebih spontan, apa yang terlintas di pikiran bisa langsung di ketik, dan dipublish. Lalu dilihat orang dan berdatanganlah komentar. Berbalas komentar, saling mengejek dan menyanjung. Sementara blog ini, belum tentu orang membacanya. Artinya, komentar balik juga belum tentu dalam satu hari muncul. Tapi, baru saya pikirkan pagi ini. Justru di blog inilah pemikiran yang agak mendalam bisa dituangkan. Menulis di sini tidak grusa-grusu. Menulis di blog membutuhkan lebih banyak huruf dan kata-kata. Meski di Facebook ada laman note, tetap saja menurut saya asyik menulis di blog. Facebook itu cepat dilihat orang, namun cepat juga dilupakan. Mereka akan membaca status yang lain, membalas komentar yang lain. Tapi, blog mungkin juga mengalami hal yang sama. Jadi, lupa dan tidak lupa, tergantung kita menjaganya. Iya nggak?

Bonsai dan Sequoia

Image
Orang Jepang memelihara pohon yang lazim disebut bonsai, pohon ini indah dan dibentuk dengan sempurna walaupun tingginya hanya dalam hitungan sentimeter. Di California ditemukan pohon raksasa hutan yang bernama Sequoia. Salah satu pohon raksasa ini diberi nama Jenderal Sherman dengan ketinggian mencapai 90 meter seakan menembus langit dan lingkar batang hingga 26 meter. Pohon raksasa ini begitu hebat sehingga jika ditebang akan menghasilkan kayu bangunan yang cukup untuk membuat 35 buah rumah dengan lima kamar. Pada saat berbentuk biji, bonsai dan Jenderal Sherman berukuran sama kecil, masing2 beratnya kurang dari satu miligram. Setelah keduanya dewasa, terjadi perbedaan ukuran yang luar biasa dan kelihatan seperti peristiwa yang sederhana saja, tetapi kisah di balik perbedaan ukuran itu mengandung pelajaran dalam kehidupan manusia. Ketika pohon Bonsai mulai menyembulkan tunasnya di muka bumi, orang Jepang mencabutnya dari tanah dan mengikat pokok akar dan sebagian cabang akarnya, deng...

Tinggalkan Tandamu, Buatlah Karya

Tahukah Anda ? Joan Of Arc hanya berusia 19 tahun ketika dia mengepalai sepasukan tentara untuk memerdekakan Perancis dari Inggris. John Calvin berusia 26 tahun saat dia mempublikasikan “lembaganya”. Sir Isaac Newton menemukan hukum gravitasi pada saat dia berusia 23 tahun. Henry Clay, “compromiser besar”, dikirim ke senat Amerika pada usia 29 tahun dan menjadi juru bicara perwakilan rakyat AS pada usia 34 tahun. Raphael menggambarkan karya besarnya antara usia 25 sampai 30 tahun. Mozart hanya hidup selama 35 tahun. Tentu saja, kebanyakan dari kita tidak akan pernah mencapai posisi seperti individu-individu yang luar biasa di atas. Setiap kita merupakan potongan dari pola yang unik. Tetapi, kebanyakan orang merasa bahwa mereka harus meninggalkan sesuatu yang lebih dari keberadaanya di dunia. Waktu aku masih muda, aku ingin membuat sesuatu. Setelah beberapa tahun, aku menyadari bahwa aku harus mengisi hidupku dengan mengamati banyak hal yang terjadi. Saat ini, aku sering menemukan bahw...

Mulai Menulis Lagi

Seorang penyair tidak akan menulis bait-bait syair ketika tak ada gundah di hatinya. Musisi kritis model Iwan Fals juga tidak akan berkarya jika tak ada gulana dalam sanubari. Tidak ada balur cat di tubuh kanvas pelukis jika dia sudah mati rasa terhadap keadaan sekelilingnya. Kepekaanlah yang menuntun seorang mencipta karya. Dan, saya merasa semenjak tidak bekerja lagi sebagai wartawan, kepekaan saya menjadi surut ke belakang. Akhir-akhir ini saya merasa berdosa saat menengok rumah lama yang satu ini. Sama sekali tidak pernah saya sentuh sejak September 2008. Genap lima bulan berlalu, tak ada pembenahan apapun pada bangunan maya ini. Banyak kawan bertanya kenapa tidak ada posting apapun di blog ini. Lama-lama saya merasa risih juga, terlebih ketika membaca tulisan saya sendiri Mandul Setelah Menikah . Sejak menikah usai Lebaran kemarin, memang saya sangat jarang menulis untuk blog. Pernikahan memang membawa konsekuensi panjang. Awalnya adalah urusan teknis pernikahan seperti surat-sura...

Lebih Mulia Tangan Hitam Melepuh

Image
SUATU hari, Rasulullah berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan orang miskin. Beberapa sahabat yang hampir semuanya bekas budak, ada di sana. Mereka adalah Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabbah dan Suhayb Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka lusuh, jubah bulu yang kasar. Meski miskin dan papa, mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam. Tiba-tiba, serombongan bangsawan yang baru masuk Islam, datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya. Mereka berkata kepada Nabi, “Kami mengusulkan agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah Arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka Anda.” Uyainah bin Hishn—salah satu ba...

Lelap Usai Berkarya

Image
Kelelahan adalah obat insomnia. Tukang kebun di Taman Pramuka Kota Bandung, terlelap usai menyapu bersih daun-daun dan sampah di taman itu, Minggu (21/9) siang. Tidur lelap di bawah pohon rindang beralaskan tikar pandan yang sudah sobek pinggirnya. Minggu siang di suasana bulan puasa, benar-benar syurga sesaat untuk pekerja penyapu taman itu. Tidur yang nikmat adalah kombinasi antara kepuasan hasil kerja dan suasana yang memadai. Tukang kebun itu, mendapatkan semuanya. Saat melihat bapak itu, saya tepekur lama. Berdiri di sampingnya sambil mengarahkan kamera beberapa kali. Dan, dia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran saya. Toh, mobil dan motor yang lalu lalang di jalan besar sekitar lima meter dari tubuh itu, sama sekali tidak menimbulkan kebisingan baginya. Lelap tetap menyelimuti. Bahagia, tenang, bersahaja, apa adanya dan menikmati yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya. Kesyukuran tiada habis akan apa yang diperoleh. Kepuasan atas hasil kerja dan karya, meski hanya onggokan d...

Nisan Tanpa Nama

Image
AWAL Ramadhan 1429 H ini, setiap sore menjelang magrib aku habiskan waktu di pemakaman. Ngabuburit menemani nisan putih yang berjajar rapi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung. Ternyata, bukan hanya kami, puluhan orang juga memenuhi tempat itu. Benar kata adikku, Bandung sangat minim ruang publik. Tak ada tempat berkumpul, bermain dan bercengkerama. Akhirnya, pemakaman pun dipilih untuk itu. Senja di pemakaman memang syahdu. Duduk di tangga tanah yang menghubungkan pemakaman pahlawan Islam dan Kristen, menatap mentari yang makin redup. Angin semilir mengelus pipi, membawa berita gembira tentang dunia akhirat. Berada di pemakaman, tentu mengingat akhir dari kisah hidup. Melihat patok nisan dan diam, berkelebat bayangan maut. Benar memang, mau Islam, Kristen, Jawa, Sunda atau Quraisy, tetap ajal menjadi akhir. Di tengah kompleks TMP, ada patung burung garuda disepuh dengan cat krom emas kehitaman. Tampak berwibawa, apalagi dikerangkeng dengan rantai besi di sekitarnya. Di bawah...

Duhai, Dahsyat Nian Maut Ini

TIBA -tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah, Ayah. Orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenangnya. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah d...

Nyawa, Takdir dan Kuasa Dokter

Pagi ini, Kamis (28/8), saya hunting foto untuk ilustrasi kesehatan. Akhirnya, masuklah saya ke sebuah rumah bersalin. Dengan menenteng kamera digital Canon S215, saya masuk ke ruangan pemeriksaan umum. Dokter perempuan berjilbab putih itu menyambut ramah. Saya jelaskan maksud kedatangan untuk mengambil foto. Tak lama kemudian, masuklah pasien ibu menggendong bayinya. Saat dokter sedang sibuk bertanya tentang nama dan identitas bayi, tiba-tiba seorang ibu yang lain, menggendong anaknya menyeruak masuk ke dalam ruang. "Dokter.., dokter, anak saya dok," suaranya menggesa. Tergopoh-gopoh, dokter berdiri mengambil anak kecil itu. Saya hanya berdiri kaku di pojok ruang pemeriksaan itu, melihat dokter tergesa mengambil stetoskop, meletakkan di dada si anak. Kulihat muka dokter memucat, raut khawatir sangat nampak di sana. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Saya ganti menatap si anak kecil itu. Wajahnya pucat sekali, sudah seputih kertas. Meski tidak seputih jilbab yang dipakaik...

Hakekat Pernikahan

Image
Bagi anda yang akan atau baru saja menggenapkan setengah dien, sudah tahukah anda, sadarkah anda tentang hakekat sebuah pernikahan? Bagi yang sudah lama usia pernikahannya, ingatkah anda akan makna akad nikah yang pernah anda ucapkan? Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan dalam sebuah pelaminan. Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu akad nikah. Dengan dua kalimat yang sederhana “Ijab dan Qabul” terjadilah perubahan besar, yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Maka nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang. Begitu besarnya perubahan ini sehingga Al Qur’an menyebut akad nikah sebagai mitsaqan ghalidzha [perjanjian yang berat]. Hanya tiga kali kata ini disebut dalam al-Quran. Pertama , ketika Allah membuat perjanjian dengan Nabi dan Rasul Ulul ‘Azmi [QS 33 : 7]. Kedua , ketika Allah mengangkat Bukit Tsur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah [QS 4 ...

Dengarkan Kata-kataku

Image
Secepat mungkin engkau harus berhenti menghabiskan nafas di luar Kenikmatan dunia sering membuat lena Tak ada yang dapat mencegah selain engkau sendiri Sebelum terjerumus makin jauh sebaiknya engkau berhenti Secepat mungkin engkau harus pulang menghabiskan mimpi yang hilang Kenyataan hidup terkadang menyakitkan tak ada yang mampu merubah selain engkau sendiri Sebelum senja merebut mentari sebaiknya engkau berhenti Secepat mungkin engkau harus padamkan bara api panas membakar Gemerlap cahaya akan segera sirna bersama turunnya senja Dengarkanlah dengan hatimu Jangan engkau dengar dengan jiwa buta Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau melihat siapa aku Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau meliahat siapa aku Dengarkanlah dengan hatimu.[*] *** Sekali lagi, Ebiet menyadarkan kita. Pilihan hidup itu harus berpihak pada nurani. Labirin hati ini kita sendiri yang tahu kemana arahnya. Orang lain tak ada yang mampu membaca siapa dan bagaimana kita. Kembali pada nurani itu petunjuk yang paling ...

Cita-cita Kecil si Anak Desa

Image
Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku Luas kebunku sehalaman akan kutanami buah dan sayuran Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan Aku pasti akan hidup tenang jauh dari bising kota yang kering dan kejam Aku akan turun berkebun mengerjakan sawah ladangku sendiri dan menuai padi yang kuning bernas dengan istri dan anakku Memang cita-citaku sederhana, sebab aku terlahir dari desa Istriku harus cantik lincah dan gesit tapi dia harus cerdik dan pintar Siapa tahu nanti aku akan terpilih jadi kepala desa kan kubangkitkan semangat rakyatku dan kubangun desaku Desaku pun pasti mengharap aku pulang Aku pun rindu membasahi bumi dengan keringatku Tapi semua itu hanyalah tergantung padanya jua Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita[*] *** Demikian Ebiet G Ade membuat lagu. Judulnya juga sederhana, Cita-cita Kecil si Anak Desa . Isinya dan substansinya tak sesederhana judulnya. Visi besar terka...

Katanya, Lelah Jadi Wartawan...

Hampir lima tahun tak bersua, akhirnya saya bertemu dengan seorang kawan lama di kereta api saat perjalanan pulang dari Purworejo-Jakarta. Nostalgia pun mewarnai pertemuan kami saat itu. Saling mengenalkan anak-istri kami, tukar kartu nama, basa-basi, dll. Di tengah perbincangan tiba2 sebuah ucapan mengejutkan terlontar dari mulut kawan tsb. "Saya sudah lelah jadi wartawan, Wan," katanya. "Gila!," pikir saya dalam hati. Ada apa gerangan dengan kawan saya ini? Padahal dia sudah eksis di dunia tulis menulis sejak awal tahun 90-an. Saya pun tahu betul semangat kawan ini, dan bagaimana dia mampu menjelajah dari desk yang satu ke desk lainnya, semua dilahapnya. Multi tasking banget! Perbincangan semakin memanas hingga akhirnya kami memutuskan melanjutkan obrolan di sambungan gerbong kereta. Spot paling ciamik untuk melanjutkan obrolan berpadu dengan berbatang-batang rokok. Intinya, profesi kuli tinta yang dulu dibanggakannya kini tak lagi memberikan kepuasan batiniah-ny...

Lelaki dan Perempuan

Image
Di mata orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan; bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan langit. Apabila bumi kekurangan panas, langit mengirimkannya; apabila ia kehilangan embun dan kesegaran, langit memperbaruinya. Langit berkeliling, laksana seorang suami yang mencari nafkah demi istrinya. Sedangkan bumi sibuk mengurus rumah tangganya; ia merawat yang lahir dan menyusui apa yang telah ia lahirkan. Anggaplah bumi dan langit sebagai makhluk yang dianugerahi kecerdasan, karena mereka melakukan pekerjaan makhluk yang memiliki kecerdasan. Jikalau pasangan ini tidak merasakan kebahagiaan antara satu dan lainnya, mengapa mereka melangkah bersama laksana sepasang kekasih yang saling mencinta? Tanpa bumi, bagaimana bunga dan pepohonan akan tumbuh? Lalu, air dan panas langit akan menghasilkan apa? Karena Tuhan meletakkan gairah dalam diri lelaki dan perempuan, maka lewat persatuannya dunia terselamatkan. [] -----Jalaluddin Rumi

Temukan Candumu

Siang terik. Matahari menggigit. Usai liputan di lapangan yang menguras keringat, aku kembali ke kantor. Hendak naik ke lantai empat ruang redaksi. Bayanganku, ruang ber-AC yang sangat nyaman akan mengelus kulit dengan kesejukan. Sepatu kets, celana jins dan kaos berkerah kukenakan. Berjalan cepat menuju lift. Di depan pintu lift, ada bos yang juga mau naik. “Enerjik sekali kamu hari ini,” katanya. “Biasalah pak, baru mood,” balasku. Lalu kami masuk ke dalam. Hanya kami berdua. Matanya memandang ke diriku, dari atas ke bawah lalu tersenyum. “Kamu mesti segera menemukan candumu. Hidup itu butuh motivator, penyemangat. Kalau belum kamu temukan, gaya enerjikmu itu akan cepat luruh,” lanjutnya. Aku terdiam sampai lift merambat naik dan pintu terbuka. “Ingat itu, segera temukan candumu,” lanjut bos sambil melangkah keluar. Meninggalkan aku dalam ketermanguan. Pendek, hanya dua menit mungkin. Tapi, kata-katanya itu berbekas dan jadi pemantik renunganku. Benar kata bos, candu itu dibutuhkan. ...

Bendera

Anak kecil itu. Berdiri di sela bebatuan—atau tepatnya reruntuhan sebuah bangunan tua. Celana jins kumal melekat di kaki, dipadu dengan sweater coklat tua. Tas ransel kecil menggantung di pungungnya. Mulutnya terbuka, meneriakkan sesuatu. Tangannya memegang erat sebatang kayu. Di ujung tongkatnya itu, bendera hitam-putih-hijau-segitiga merah di ujungnya berkibar-kibar. Bendera Palestina. Saya menyaksikan sebuah fragmen yang belum pernah saya jumpai di negeri ini. Anak kecil yang memegang bendera sebuah negara—yang belum diakui secara internasional—dengan kecintaan besar. Wajahnya mengguratkan hal itu. Patriotisme dan nasionalisme memang tidak perlu didiskusikan di Palestina. Mereka sudah cukup kenyang dengan segala pengalaman. Nasionalisme dan patriotisme adalah efek belaka dari wafatnya sang anak, kakak ibu atau ayah tercinta. Bom Israel meluluhlantakkan seluruh asa dan masa depan. Tapi, bukan putus asa dan keacuhan yang lahir. Justru cinta akan negara dan isinya meledak-ledak. Ka...

Etos Kerja

Image
Bisakah, etos dimaknai sebagai semangat untuk menjalani kehidupan? Bisakah etos diartikan sebagai spirit untuk menapaki hari-hari? Jika bisa, maka saya merasa perlu memaknai secara lebih dalam mengenai persoalan etos ini. Karena dalam kondisi tertentu, etos menjadi samar dalam jiwa. Mungkin anda juga merasakan hal yang sama. Ada saat dimana seorang manusia berada pada titik nadhir keinginan menjadi maju. Maksud saya, tidak ada sedikitpun dalam dirinya, sebuah bayangan berubah menjadi lebih baik—walaupun dia tahu sesuatu itu baik. Pada titik kemalasan paling parah ini, seluruh syaraf tak mampu dikendalikan. Semuanya melakukan perlawanan terhadap pengetahuan yang melekat pada otak. Syaraf menjadi mati rasa dan tidak mau menuruti sebersit keinginan bergerak itu. Kondisi inilah, yang sering kita sebut sebagai “tidak mood”. Jika memaknai mood sebagai perasaan yang enjoyable belaka, maka saya yakin tidak akan ada etos dalam hidup kita. Karena memang, etos adalah bagian dari karakte...

Self Esteem, Self Confidence, Pride

Image
Ini adalah nasehat indah dari seorang sahabat... Dua orang lelaki yang datang bertamu ke rumah seorang bijak tertegun keheranan. Mereka melihat si orang bijak sedang bekerja keras. Ia mengangkut air dalam ember kemudian menyikat lantai rumahnya. Keringatnya deras bercucuran. Menyaksikan keganjilan ini salah seorang lelaki ini bertanya, "Apakah yang sedang engkau lakukan hai orang bijak?" Orang bijak menjawab, "Tadi aku kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat kepadaku. Aku memberikan banyak nasihat yang sangat bermanfaat bagi mereka. Merekapun tampak puas dan bahagia mendengar semua perkataanku. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang hebat. Kesombonganku mulai bermunculan. Karena itu, aku melakukan pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombongku itu." Para pembaca yang budiman, sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua yang benih-benihnya sering muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong sering dise...

"Nanti Kekurangan Mahar Adik Tutupi"

Image
Anda tahu seorang satpam atau penjaga malam sebuah kantor? Saya sering bertemu dengan berbagai tipe tukang jaga malam. Ada yang galak, suka menggertak, ada yang ramah tapi perlu recehan, ada juga yang sudah memahami cara melayani tamu dengan baik. Tapi, saya baru menemui seorang tukang jaga malam yang sholehnya minta ampun. Tilawahnya selalu terdengar di belakang meja resepsionis, setiap jam sholat selalu bergegas mengambil air wudhu. Sholat sunnahnya tidak ketinggalan, dan mulutnya selalu berkomat-kamit melafal dzikir sembari matanya mengawasi pintu masuk kantor serta tamu yang lalu lalang. Selain itu profesionalitasnya teruji saat menerima telefon. Salam hangat diikuti menyebut institusi kantornya, lalu bertanya lembut, ini dengan bapak siapa? Begitu juga saat ada tamu yang datang--baik mengajukan proposal penawaran, permohonan bantuan, atau sekedar pengemis yang mampir. Dipersilakan duduk, disuguhi minuman segar. Kawan saya itu bernama Riduan. Panggilan sehari-hari adalah Riduan. Ta...