Posts

Showing posts with the label Jalan-jalan

Tarawih di Sela Takbir

Lebaran kali ini berbeda lagi. Ini sudah biasa. Maksudnya karena hampir setiap tahun terjadi, lalu menjadi sebuah kebiasaan. Mengutip Gus Dur, “gitu aja kok repot.” Semuanya senang asal bisa Lebaran. Malam tadi, saya berkeliling Banjarmasin. Bahkan sampai keluar kota. Ke arah Sungai Lulut dan Sungai Tabuk, kabupaten Banjar. Sengaja saya tidak tarawih jamaah di masjid, juga tidak takbiran. Salah satu misi perjalanan saya malam tadi, adalah investigasi kondisi masyarakat di tengah perbedaan hari raya ini. Ternyata, hampir seluruh langgar dan masjid di pelosok Banjarmasin—apalagi kabupaten Banjar yang basis nahdliyin—melaksanakan shalat tarawih untuk malam terakhir di bulan Ramadhan. Sama sekali tidak nampak aktivitas takbiran. Bahkan masjid-masjid besar seperti Al-Jihad di jalan Cempaka, masjid Mujahidin di Kuin dan beberapa basis Muhammadiyah yang lain tidak menampakkan aktivitas takbiran secara vulgar. Cukup menarik untuk dicatat, toleransi masyarakat kita sudah cukup matang. Say...

Maulid Habsyi dan Pak Ngadri

Image
Tadi malam saya berkeliling Banjarmasin. Sekitar jam sembilan malam, kami (saya dan satu teman) sampai di kediaman Habib Novel Husein Alaydrus. Setelah bersalaman—cium tangan bolak-balik, atas bawah—kami berbincang ringan. Bertanya kabar dan saling mendoakan. Ada tiga lelaki di sana. Semuanya memakai sarung dan peci rapi. Nampaknya habis selesai tarawih dengan 20 rakaat yang panjang. Maksud saya berbeda dengan 20 rakaat yang kilat super ngebut itu. Seperminuman teh, tiba-tiba Habib memutuskan. “Kita baca Maulid sebentar. Tiga puluh menit saja,” ucapnya berwibawa. Diawali dengan al-Fatihah. Dengan takdzim, kitab Maulid Habsyi yang berwarna hijau berukuran kecil itu dicium. Lalu bacaan maulid yang ritmis, mengalun pelan dari mulut sang habib. Diselang-selingi shalawat dari seluruh jamaah. Di saat “sholawat asyroqol”, seluruh jamaah berdiri. Seakan ruh Rasulullah hadir disana. [mohon maaf, ini jelas adalah metafora untuk menunjukkan kedekatan kami dengan sang Nabi. Jangan diartikan se...

Backpacker’s Rules

Image
Mendaki gunung bukanlah persoalan hukum, yang hitam putih, boleh atau tidak. Naik gunung juga tidak terlalu berkaitan dengan jenis kelamin sang pendaki. Mendaki gunung adalah masalah perasaan. Ketajaman mata hati, kejernihan pikiran dan inspirasi yang berlimpah. Gunung mengajarkan tentang kesejatian makna hidup dan perjuangan mencapai puncak kemenangan. Gie meninggal di puncak Mahameru dalam usia 27 tahun. Masih sangat muda. Dan dalam kemudaannya dia telah mampu berbuat banyak untuk negerinya. Meskipun secara genetik, dia bermata sipit dan berkulit terang. Sebuah pertanda fisik dia adalah seorang Tionghoa. Gie bisa mengindonesia—salah satunya—karena gunung yang dijelajahinya. Memiliki kecintaan terhadap alam: gunung, sungai, danau, lembah dan segala keelokan nusantara, akan membantu kita memahami Indonesia. Sesungguhnya, di sanalah terletak kesadaran seorang warga nusantara. Pendakian bukan hanya persoalan senang-senang, hobby, atau killing the time . Setiap posko yang dilalui mrup...

Mengunjungi Jogja

Baru saja menginjakkan kaki di tanah Jogja. Kembali mengunjungi kota lama yang penuh kenangan dalam hidup saya. Separuh kedewasaan dan perkembangan pemikiran ada di kota ini. Mengenal seluk beluk pengetahuan juga di kota ini. Berkenalan dengan demosntrasi jalanan dan parlemennya juga di sini, termasuk mengenal mas Eko Prasetyo sang Muslim Kiri itu juga di sini. Semoga idealisme selalu beriring jalan dengan konsistensi. Perjalanan tadi menaiki motor dari Purwodadi. Mampir ke Solo mengunjungi markas pergerakan KAMMI, bertemu kawan-kawan yang sibuk mengawal Pilkada Jawa Tengah besok. Hari Sabtu pagi besok, rencananya mereka akan deklarasikan sebuah aliansi yang mengawal demokrasi lokal itu. Mengumpuli para aktivis membuat geliat idealisme menyala terus, minimal atmosfer pemberontakan terhadap ketidakadilan ikut mewarnai hati ini. Dua jam ngebut di jalanan dengan Jupiter, sampai di Prambanan dicegat polisi. Sempritan yang kuat memaksaku berbelok kembali, menaati hukum yang tegak berdiri it...

Menjenguk Tanah Kelahiran

Besok pagi, pukul 08.00 jika jadwal tepat waktu Insya Allah saya akan menumpangi kapal yang melayari Laut Jawa. Menyeberang ke Surabaya menaiki Kumala. Ada perasaan yang mendorong saya untuk menuliskan ini, tentang kerinduan terhadap tanah kelahiran. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). [Ali Imran 3:8]

Bertemu Kawan Lama

Image
Saat itu saya melintasi Jalan Ahmad Yani, sedang menuju ke sebuah kantor partai. Saat berbelok di pertigaan arah Banjar Permai, tiba-tiba mata saya tertumbuk ke sebuah wajah yang sangat akrab di benak saya. Stang motor tetap ke depan, namun mata saya menatap wajahnya. Ternyata sang pemilik wajah berlaku yang sama. Sesaat setelah sama-sama yakin, kami berteriak, “Hey…”. Bertemu kawan lama memang menyenangkan. Setelah sekian tahun tidak bertemu, tiba-tiba kami saling mendapati, bahkan tidak di Jogja, tapi di Banjarmasin. Kota yang sangat jauh. Saya sama sekali tidak mengira bahwa rumahnya juga di kota ini, tepatnya di Belitung Darat. Dahulu, kami sama-sama aktif di KAMMI DIY. Saya memegang kendali Kastrat, sementara untuk Sosial Masyarakat, dia yang meng- hadlonah -i. Setiap Selasa sore, kami rapat membicarakan agenda kerja satu minggu, sekaligus evaluasi apa yang telah dilakukan. Walaupun sebetulnya saya dulu lebih banyak faktor for fun belaka. Maksud saya, organisasi adalah se...

Kajian di Minamas

Image
Hari Rabu kemarin, saya membersamai para karyawan di PT Minamas melakukan kajian Islam. Minamas adalah sebuah perusahaan kelapa sawit yang sangat besar. Untuk kantor yang di Banjarmasin, mengkoordinir kebun-kebun yang ada di Kalimantan dan Sulawesi. untuk kantor Banjarmasin (terletak di Km 22 menuju Landasan Ulin), sudah bisa diadakan kajian keislaman setiap hari Rabu siang. Di tengah padatnya aktivitas kerja, mereka menyempatkan waktu untuk ngaji juga. Jam yang harusnya dialokasi untuk istirahat digunakan separuhnya untuk mendengarkan para ustadz memaparkan Islam. Saya tidak menjadi ustadz kemarin, hanya membersamai nonton film. Menurut pengelolanya, Pak Hilmi Hasan, agar tidak terjadi kejenuhan sekali-kali diselingi dengan nonton film bareng. Nah, film yang ditonton itu adalah "Hingga Batu Bicara" yang menggambarkan 40 tahun penjajahan Israel di Palestina. Tanggal 16 Juni kemarin, sudah sempat saya bedah bersama teman2, sekarang kita mengulas lagi tentang Palesina. Berbe...

Gerak Jalan yang Fantastik

Image
Malam itu, kami menginap di pendapa bupati Hulu Sungai Selatan. Pendapa yang luas itu memiliki dua lokal, depan dan belakang. Yang depan hanyalah aula yang luas, sementara sebelah dalam aula yang di setiap sudutnya terdapat kamar. Di kamar itulah saya tidur bersama tiga tokoh politik yang saya bersamai. Sepertinya, kamar ini memang biasa untuk menginap para tamu pejabat. Standar hotel bintang 3, lengkap dengan kamar mandi dalam, AC, TV dan minuman ringan di kulkas dinginnya. Nyaman jua, pang . Sesuai kesepakatan, acara pokok kedatangan Habib ke kota Kandangan ini adalah untuk melepas dan mendampingi para peserta jalan sehat yang diorganisir oleh Amandit Event Organizer , sebuah lembaga pengembangan dari Radio Gema Amandit milik Pemda HSS. Selain itu, bekerjasama dengan Indosat, Fatigon dan tentu saja Partai Keadilan Sejahtera yang mendapat pemilih terbesar di kabupaten ini. Pagi itu, saya bangun, segera mempersiapkan perangkat kerja. Handycam, kamera digital dan MP4 recorder sudah ad...

Bersama Habib Aboe Bakar al-Habsyi

Image
Sebelumnya, saya sudah pernah mengikuti perjalanan seorang habib, yaitu Habib Nabiel Fuad al-Musawa . Kemarin, aku mendapat kesemptan lagi untuk membersamai habib yang lain, yang memiliki karakter khas: Habib Aboe Bakar al-Habsyi. Hari Sabtu pagi, saya berangkat ke Kandangan, ibukota Hulu Sungai Selatan. Ini kali yang kedua saya ke Kandangan setelah Pelatihan Jurnalistik kemarin. Satu mobil itu adalah Pak Riyadi (Ketua DPW PKS Kalsel), Pak Riswandi (Wakil Ketua DPRD Kalsel) dan Habib Aboe Bakar al-Habsyi yang kebetulan juga anggota Komisi V (Perhubungan) DPR RI dari FPKS. Dan posisi saya sebagai pewarta yang harus meliput dan melaporkan kepada publik tentang kegiatan mereka itu. Perjalanan lancar saja, mobil Innova yang disopiri Ketua DPW PKS itu berjalan mulus di jalanan trans Kalimantan. Kami berhenti di sebuah rumah makan di Banjarbaru, soto Banjar yang lezat dan "mak nyuuss" (menirukan pak Bondan, pakar tata boga yang biasa muncul di acara Wisata Kuliner itu) terasa di l...

Mengiringi Habib Nabil Fuad al-Musawa

Image
Beruntunglah diriku, hari Ahad pagi (25/03) kemarin memperoleh kesempatan membersamai salah seorang dari keturunan Rasulullah SAW. Dalam kapasitas sebagai jurnalis, aku bisa mewawancarai beliau. Bahkan sempat sarapan bersama di sebuah kedai yang menjual makanan khas kota Kandangan yaitu ketupat. Tidak perlu banyak kata, inilah tulisanku yang akan dimuat hari Rabu di Radar Banjarmasin (semoga tidak banyak diedit...). Beliau adalah Habib Nabil Fuad al-Musawa. Keturunan ke-38 dari Rasulullah, cucu keponakan Habib Muhsin bin Ali al-Musawa yang menjadi pendiri Ma’had Darul Ulum, tempat ramai mengajinya para ulama Indonesia di Makkah al-Mukarramah. Wajah yang kental dengan aura Timur Tengah itu menyorotkan keteduhan bagi siapa saja yang menatapnya. Suaranya yang tegas ditambah senyum yang selalu mengembang menjadikan kharisma otentik seorang habib dari sosok ini. Beruntunglah masyarakat di Kayutangi yang memperoleh kesempatan berjumpa dengan sosok Habib Nabil. Tausiyah dan ujaran-ujaran Hab...

Ketika Akhir Pekan Datang

Image
Pagi tadi hari Minggu. Hari yang selalu dinantikan para pekerja seperti diriku. Satu hari penuh yang bebas kuisi apapun. Aku yakin, kita juga menunggu dengan tidak sabar hari yang bisa digunakan untuk refresh seluruh sendi dan urat syaraf yang tegang setelah seminggu bekerja. Jika masih di Jogja, maka toko buku atau gunung menjadi pilihan utama. Dua itu memang hobiku: membaca buku dan membaca alam. Sayang, kota Banjarmasin hanya berisi sungai, itupun kotor dan banyak sampah. Slogan kota Banjarmasin Bungas yang berarti Banjarmasin Cantik nampaknya jauh panggang dari api. Walaupun begitu, kulihat beberapa sudut kota mulai dibenahi. Adanya siring di pinggiran sungai Martapura yang dibuat taman sudah cukup indah. Tepat di seberang sungai, Masjid Sabilal Muhtadin nampak gagah di tengah kota, dilingkupi pohon-pohon tinggi yang teduh. Malam minggu aku ke depan kantor walikota Banjarmasin. Seberang jalan juga sudah dibangun taman kecil di bibir sungai yang lebarnya mencapai lima belas meter it...

Habib dan Maulid Habsyi

Image
Lelaki itu bernama Habib Novel Hussein Alaydrus. Tinggi, kurus, berhidung agak mancung. Perawakan dan perwajahan yang masih berwarna Timur Tengah. Namun, kemelayuannya jelas lebih kental. Entah sudah keturunan keberapa dari Muhammad Rasulullah. Malam ini aku berjumpa dan bershalawat bersamanya. Ba’da isya menelusuri kembali jalanan menuju Sungai Tabuk, sebuah kecamatan di kabupaten Banjar. Sekitar 20 kilometer dari kota Banjarmasin. Memacu motor di sepanjang pinggir sungai Martapura, sungai besar yang menjadi pusat bagi seluruh aktivitas masyarakat. Mungkin bagi yang pertama kali datang—dan tidak terbiasa dengan peradaban sungai—akan merasa jijik, kotor dan segera menjauh. Tapi, itulah. Di sini, hidup adalah air, sekotor dan secoklat apapun airnya. Tercampur dengan berbagai benda: cair dan padat. Tidak ada setengah jam, aku sampai di sebuah rumah mungil berlantai dua. Jangan banyangkan seperti di perkotaan. Rumah ini seluruhnya terbuat dari kayu. Lantai satupun jika aku berdiri, kepala...

Kota Seribu Huruf Hijaiyyah

Image
Semalam dari kota Martapura. Ibukota kabupaten Banjar ini sekitar satu jam perjalanan dari kota Banjarmasin, kecepatan motor standar. Jalan menuju Martapura, namanya Jalan Ahmad Yani. Nampaknya ini nama jalan terpanjang di Kalsel. Memasuki kota ini, kita akan disambut dengan tugu yang menggambarkan berlian raksasa. Tulisan "Selamat Datang di Kota Intan," juga akan kita lihat terpampang jelas di bawah tugu itu. Semua kita tahu bahwa Martapura adalah penghasil intan berlian yang termasyhur. Bisnis ini sudah berjalan sejak dahulu. Hingga kini, toko-toko intan beterbaran di pinggir jalan, mirip dengan komplek Kotagede, Yogyakarta yang di sepanjang jalan banyak berjualan silver alias kerajinan perak. Serambi Makkah Sebutan ini merujuk pada budaya religius yang sangat kental di kota ini. Terdapat sebuah komplek perguruan Islam di dekat alun-alun, yaitu pesantren Darussalam. Komplek ini bernama Sekumpul. Seluruh Borneo paham dengan teritori sakral ini. Dahulu pernah hidup Guru Zain...