Tarawih di Sela Takbir
Lebaran kali ini berbeda lagi. Ini sudah biasa. Maksudnya karena hampir setiap tahun terjadi, lalu menjadi sebuah kebiasaan. Mengutip Gus Dur, “gitu aja kok repot.” Semuanya senang asal bisa Lebaran. Malam tadi, saya berkeliling Banjarmasin. Bahkan sampai keluar kota. Ke arah Sungai Lulut dan Sungai Tabuk, kabupaten Banjar. Sengaja saya tidak tarawih jamaah di masjid, juga tidak takbiran. Salah satu misi perjalanan saya malam tadi, adalah investigasi kondisi masyarakat di tengah perbedaan hari raya ini. Ternyata, hampir seluruh langgar dan masjid di pelosok Banjarmasin—apalagi kabupaten Banjar yang basis nahdliyin—melaksanakan shalat tarawih untuk malam terakhir di bulan Ramadhan. Sama sekali tidak nampak aktivitas takbiran. Bahkan masjid-masjid besar seperti Al-Jihad di jalan Cempaka, masjid Mujahidin di Kuin dan beberapa basis Muhammadiyah yang lain tidak menampakkan aktivitas takbiran secara vulgar. Cukup menarik untuk dicatat, toleransi masyarakat kita sudah cukup matang. Say...