Conscientizacao: Antara Fanatis, Naif dan Kritis
“Wahai Ikhwan, sesungguhnya hari dimana di dalam dakwah kita diteriakkan yel-yel figuritas tidak boleh terjadi sama sekali” —Hassan Al-Banna [1] Suatu hari, seorang teman bertanya, ”Jika saat ini aku mendakwakan diri kepadamu sebagai seorang Rasul utusan Tuhan, bagaimana pendapatmu ?” Secara spontan saya jawab, “Non sense, Muhammad adalah khataman nabiyyin (penutup para nabi).” “Lho, kok kamu menolak. Sedangkan Abu Bakar ketika mendengar dakwa Muhammad tentang dirinya sebagai Nabi, langsung mengiyakan. Bisa saja dirimu saat ini memposisikan diri sebagaimana Abu Bakar kala itu.” Dialog singkat itu membuat saya berfikir cukup keras. Kesadaran apakah yang membingkai benak Sayyidina Abu Bakar kala mendengar kesaksian Muhammad sebagai Rasulullah, bahkan—tanpa reserve —langsung membenarkan, hingga gelar al-shiddiq melekati namanya. Tentunya proses pembenaran yang kemudian diikuti laku ketaatan, ketundukan dan anut lampah (mengikuti tradisi), memerlukan seperangkat paradigma pikir hingga...