Posts

Showing posts with the label Pendidikan

Iklan dan Akuntabilitas

Akhir-akhir ini, layar televisi sering menayangkan iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh Depdiknas. Iklan yang salah satunya memunculkan Bu Mus—tokoh utama film Laskar Pelangi —itu mengabarkan tentang adanya sekolah gratis alias tanpa biaya. Bahasa iklan memang biasa: selalu bombastis, provokatif dan lebih sering tidak sesuai dengan kenyataan. Di sana lebih banyak dihembuskan angin surga. Terlepas dari motif politis, banyak orangtua yang berbinar matanya tiap iklan itu ditayangkan. Meski begitu, semua orangtua sudah tahu di mayoritas sekolah, bayaran selalu ditarik. Benar bahwa ada komponen pembiayaan yang tidak perlu dibayar orangtua murid, seperti buku pelajaran dan uang peralatan fisik. Namun sekolah ternyata masih kekurangan biaya. Untuk menutupi kekurangan, beberapa berinisiatif menjemput sumbangan orangtua murid secara sukarela, ada juga yang mewajibkan jumlah pungutan tertentu. Bahkan ada yang membuka lini bisnis dan pengembangan usaha kreatif untuk menambah pembiayaan. Tida...

Jangan Lagi Salah Anggaran

Amin Sudarsono Pegiat PATTIRO Jakarta Jumlah Alokasi Dana Khusus (DAK) untuk pendidikan yang sifatnya untuk perbaikan fisik sekolah pada 2009 sudah mencapai angka Rp 9,3 triliun. Namun, mengapa di televisi, koran dan media lainnya masih saja diberitakan banyak sekolah yang ambruk atau keropos bangunannya. Pertanyaan itu wajar muncul ke permukaan karena antara jumlah angka dengan result tidak berimbang. Ada yang salah di sini. Rencananya, berdasar Rencana Kerja Pemerintah (RKP), dalam APBN 2010, total anggaran pendidikan akan mencapai Rp 195,636 triliun atau rasionya 20 persen dari total alokasi belanja negara yang jumlahnya sekitar Rp 330 triliun. Porsi anggaran pendidikan 2010 itu berarti turun hingga Rp 11,777 triliun dibandingkan dengan tahun 2009, seiring dengan berkurangnya belanja pemerintah. Pada 2009 pemerintah pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp 207,413 triliun atau 21 persen dari total alokasi belanja negara yang besarnya Rp 333,5 triliun. Meski turun jum...

Dai Cilik di Televisi

Image
Televisi nampaknya makin cerdas untuk menarik pemirsanya. Berbagai macam bentuk tayangan dibuat sebagai sarana hiburan dan informasi. Seakan berlomba mereka menciptakan program acara yang menyentuh berbagai macam segmen. Dari anak-anak hingga kakek-nenek, disediakan program acara. Mulai dari jam penayangan hingga materi acara, mencoba disesuaikan dengan usia pemirsa. Namun, televisi tetaplah sebuah media yang dingin (cold medium) sebagaimana kata McLuhan. Media ini kaku dan tidak komunikatif. Ditonton orang atau tidak, dia tetap mengudara, sesuai waktunya. Akhirnya banyak tayangan yang harusnya dikonsumsi oleh orang dewasa menjadi tontonan anak-anak. Atau pada beberapa kondisi, acara yang harusnya untuk anak-anak justru “dimuati” dengan kepentingan orang dewasa. Karena itu, setiap acara TV haruslah kita cermati. Salah satu tayangan yang menarik dan nampaknya mendapat apresiasi positif dari masyarakat luas adalah Pemilihan Dai Cilik, yang biasa disingkat dengan Pildacil. Progra...

Eksploitasi Anak di Televisi

Tulisan ini dimuat di harian Banjarmasin Post , 26 Februari 2007. Lihat Opini. Seiring gencarnya isu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ada hal yang menggelitik saya berkaitan dengan fenomena anak usia dini (AUD). Anak kita ini, sering menjadi objek dalam dunia periklanan Indonesia, terutama di televisi. Anak memiliki potensi sesuai aslinya, yaitu kejujuran berkata, kepolosan perilaku dan apa adanya. Saat ini, iklan di televisi kian beragam. Anak baik sebagai penyampai langsung atau figuran, berupaya mengajak pemirsa untuk mengonsumsi sebuah produk. Menjadi pertanyaan, benarkah anak an sich cukup menjadi daya tarik? Produsen makanan anak akan menggunakan anak (umumnya selebritis). Begitu pula kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan dunia mereka. Di sini, anak masih dominan sebagai daya tarik. Atau dimaksudkan oleh produsen sebagai ‘pengatrol’ angka penjualan. Ada yang patut dicemaskan tentang posisi anak sebagai penyampai pesan, yakni pembudayaan berbohong kepada khalayak. Anak dilat...