Posts

Showing posts with the label Feature

Belajar Sukses Advokasi: Air Bersih untuk Warga Jingkol

Tulisan ini memuat cerita tentang pengalaman lapangan advokasi anggaran di Dusun Jingkol yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kendal. Sebuah kisah tentang keberhasilan akses anggaran daerah oleh organisasi masyarakat sipil yang digawangi oleh PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional) Kendal dan jaringan perempuan. Secara geografis, dusun ini termasuk di Desa Kedungboto Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah. Arah baratdaya dari Kota Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah. Letaknya di balik perbukitan, biasa disebut oleh warga setempat dengan nama Perbukitan Wuluhgambir, termasuk dataran tinggi di lereng Gunung Ungaran. Posisi Dusun Jingkol benar-benar terpencil. Untuk bisa mencapai daerah itu, harus melewati jalanan terjal bebatuan tanpa aspal yang naik turun dan menyeberangi sungai. Dusun tersebut ditempati 146 kepala keluarga dengan keseluruhan penduduknya berjumlah 499 jiwa. Tahun 1999, Mistari didaulat menjadi kepala Dusun Jingkol oleh warganya...

Nyawa, Takdir dan Kuasa Dokter

Pagi ini, Kamis (28/8), saya hunting foto untuk ilustrasi kesehatan. Akhirnya, masuklah saya ke sebuah rumah bersalin. Dengan menenteng kamera digital Canon S215, saya masuk ke ruangan pemeriksaan umum. Dokter perempuan berjilbab putih itu menyambut ramah. Saya jelaskan maksud kedatangan untuk mengambil foto. Tak lama kemudian, masuklah pasien ibu menggendong bayinya. Saat dokter sedang sibuk bertanya tentang nama dan identitas bayi, tiba-tiba seorang ibu yang lain, menggendong anaknya menyeruak masuk ke dalam ruang. "Dokter.., dokter, anak saya dok," suaranya menggesa. Tergopoh-gopoh, dokter berdiri mengambil anak kecil itu. Saya hanya berdiri kaku di pojok ruang pemeriksaan itu, melihat dokter tergesa mengambil stetoskop, meletakkan di dada si anak. Kulihat muka dokter memucat, raut khawatir sangat nampak di sana. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Saya ganti menatap si anak kecil itu. Wajahnya pucat sekali, sudah seputih kertas. Meski tidak seputih jilbab yang dipakaik...

Usup Tak Pernah Dapat BLT

Image
Namanya Usup (55). Bukan hanya namanya yang pendek, rejekinya pun sampai saat ini masih pendek. Tak pernah ada bantuan pemerintah bernama BLT mampir di rumahnya. Minggu (25/5) siang, saat saya bertamu ke rumahnya, dia bersila di lantai rumahnya yang seluruhnya dari kayu. Warna biru cat rumah itu sudah kusam. Berbeda dengan rumah di kanan kirinya yang seluruhnya terbuat dari tembok semen dan bercat oranye cerah. Siang itu, perangkat kerjanya berhamburan. Ember hitam berisi air, besi penjepit, satu kotak berisi perangkat reparasi motor, dan ban bekas yang dipotong kecil-kecil. Usup menjalani hidup dengan matapencaharian sebagai tukang tambal ban. Di beranda rumahnya yang hanya seluas 1,5 x 4 itu, dia menerima orderan tambal ban. “Kadang jika kosong, saya mengojek juga. Hanya di depan sini saja,” ujar Usup sambil menunjuk sebuah sepeda motor Honda tua. Plat nomornya bahkan sudah kadaluwarsa. Usup mengaku tak ada biaya untuk perpanjangan surat-surat kendaraan itu. Dalam satu hari, kadang ...

Jangan Mengemis, Nak! Itu Hina...

SEBUAH ruang di pojok belakang lantai dua Kompleks Pasar Lima Atas Banjarmasin. Ruang itu berukuran 7 x 6 meter, bercat biru di pintu dan pinggir jendelanya. Di samping kanan kirinya, berjajar kios yang kotor dan berjejal barang bekas. Di depan pintu masuknya ada penjahit yang mengerjakan ratusan lembar karung plastik. Di pintunya tertempel stiker “Prestasi Yes, Narkoba No!”. Itulah sekolah khusus anak jalanan, satu-satunya di Banjarmasin. Tadi pagi, aku menyambanginya. Untuk mencapai tempat itu, harus melewati kios pedagang yang berjejal di bawahnya. Ketika hujan turun seperti sekarang, hampir tak ada tempat yang tidak berlumpur. Meskipun tadi lantainya bersih, tetap dikotori lumpur yang dibawa alas kaki para pedagang dan pengunjung pasar. Setiap pagi, kecuali Minggu dan hari libur, belasan anak memenuhi ruangan yang berisi 30 meja dan kursi itu. Tata ruangnya benar-benar seperti sekolah dasar pada umumnya. Ada papan tulis di depan kelas, beberapa gambar pahlawan dan jadwal pelajaran...

Awalnya Video Mantenan

Tertatih-tatih, Hasbi melangkah di Pelabuhan Trisakti. Raut mukanya menunjukkan keletihan. Kuyu tak ada gairah hidup. Untung ada teman-teman sekolahnya seperti Ajay, Yudi, Andre dan Ian. Mereka menjadi ‘obat’ bagi Hasbi melupakan ketergantungannya pada narkoba. Transformasi hidup lantas dilakukan Hasbi. Dia tekun mendalami agama. Menjadi seorang santri. "Aku ingin hidup normal. Aku ingin menikmati hidup tanpa menjadi budak narkoba. Hidup yang indah dan penuh warna," kata Hasbi. Sebuah film pendek. Durasinya hanya 26 menit. Sebetulnya lumayan panjang dibanding short film yang lain. Judulnya Save Me Diary , berkisah tentang seorang anak bernama Hasbi yang kena candu narkoba. Sampai masa pertobatan melalui sebuah pesantren di Banjarmasin. Film itu ditampilkan dalam sebuah even bernama 3 Cities Short Film Festival yang digelar di Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basry, tepat di seberang kampus Universitas Lambung Mangkurat pada Kamis dan Jumat, 20-21 Maret 2008 lalu. Even itu ...

Kagum Soeharto

Image
"Beliau adalah sosok yang kebapakan, mengayomi, tutur katanya lembut, murah senyum, sekaligus memiliki wibawa yang besar," ujar Dra Hj Sri Widayati tentang almarhum mantan Presiden Soeharto yang wafat Senin (27/1). Sehari setelah Pak Harto meninggal, saya bersilaturahmi dengan Ibu Sri di rumahnya, Kompleks Perumahan Dosen Unlam, Jalan Cendrawasih Belitung Banjarmasin. Ibu Sri pernah mendapat anugerah sebagai Dosen Teladan Nasional mewakili Universitas Lambung Mangkurat pada 19 Agustus 1992. "Saat itu, saya bertemu langsung, bersalaman dengan Pak Harto dan Ibu Tien di Istana Negara," kenangnya. Ketika bertutur, suaranya menjadi lirih dan bergetar, matanya berkaca-kaca. Satu lagi yang dikagumi dari sosok Soeharto adalah penguasaan sang presiden terhadap suatu masalah sangat dalam. "Saat memberi pengarahan tentang pendidikan, beliau mengetahui masalah hingga detil dan tingkat teknis. Bahkan beberapa pejabat terkejut mendengar paparan Pak Harto. Saking rincinya,...

Ahmadiyah di Banjarmasin

Image
Bangunan itu ada di Jalan Dahlia Kebun Sayur Rt 21 No 7 Kelurahan Mawar Kecamatan Banjarmasin Tengah. Berukuran 15 x 7 meter, berdinding papan bercat hijau, terdiri dari dua lantai. Lantai atas digunakan sebagai masjid, sementara lantai bawah untuk sekretariat. Pagar kayu warna putih membatasinya dengan jalan. Di halaman depan yang selebar tiga meter, berdiri sebuah plang yang menunjukkan disitulah markas Jemaat Ahmadiyah Cabang Banjarmasin. Di plang itu juga ada Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah , di bawahnya ada tulisan Badan Hukum Menteri Kehakiman RI No.JA.5/23/13 Tgl 13-3-1953, yang memberi legalitas penyebaran Ahmadiyah. Di sanalah aktivitas Jemaat Ahmadiyah Cabang Banjarmasin dilakukan. Pemimpinnya bernama Firman Alisyah, mubaligh yang dikirim oleh pusat Ahmadiyah di Parung Bogor sejak dua tahun yang lalu untuk mengawal dakwah Ahmadiyah di Kalimantan Selatan. Bersama istri dan dua anaknya, Firman hijrah ke Banjarmasin. “Seluruh mubaligh sudah mewakafkan hidup untuk Jemaat. ...

Honorer Jadi Pemulung

Image
Di tengah hamparan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan, berdiri tiga buah gubuk berdinding kardus dan triplek serta beratap terpal bekas. Di antara tiga gubuk itu, terlihat seorang laki-laki paro baya sedang menyantap makanan. Dengan berpakaian warna oranye bertuliskan Dinas Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Kota Banjarmasin, dia lahap menyantap sayur asam di depannya. Di atas meja yang dibuat dari kayu-kayu bekas bangunan, dia duduk bersila menikmati makan siang. Bau sampah menyengat, anyir dan bagi yang belum pernah masuk areal itu, pasti akan muntah. Lalat berseliweran, menimbulkan suara mendengung aneh. Tapi, hilir mudik lalat yang terkadang singgah di piring sekadar ikut mencicipi makanan, tak dipedulikannya. Sambil menyuap makanan, sesekali memandang keluar gubuk itu. Pria itu bernama Samani (51), warga Handil Puting yang ikut mengais rejeki dari sampah. Dia sebenarnya karyawan honorer di TPA Basirih yang mencari penghasilan tambahan dar...

Kelotok: Usaha Turun Temurun

Image
Sungai Martapura di depan Kantor Walikota Banjarmasin tampak ramai. Puluhan orang menunggu kelotok yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan. Alat transportasi air ini masih sangat akrab bagi penduduk Kota Seribu Sungai. Meskipun jalan darat sudah terbangun, masih banyak masyarakat yang memilih kendaraan ini. Mansyah (53), adalah salah satu pemilik kelotok yang beroperasi dari sungai di depan Kantor Walikota Jl RE Martadinata hingga ke Basirih. Dalam sehari, kelotoknya bisa empat kali bolak-balik. Selain itu, dia juga melayani penumpang rombongan yang meminta ke Pulau Kembang atau Pasar Terapung. Kelotoknya mampu mengangkut 30 orang sekaligus. “Sebetulnya jumlah maksimum di surat jalan 12 orang, tapi penumpang tidak mau menunggu kelotok berikutnya,” ujarnya. Sekali jalan, penumpang dipungut bayaran Rp 2.500. Sementara untuk biaya carter ke Pulau Kembang, Mansyah memasang tarif Rp 125 ribu. Penghasilannya meningkat ketika hari libur atau Minggu. Lelaki yang tinggal di Teluk T...

Jualan Sama Keuntungan Beda

Image
Di depan pagar SD Negeri Kampung Melayu 03 dan 09, seratus meter dari halaman parkir Duta Mall Banjarmasin, berjajar penjual makanan kecil. Salah satunya adalah pentol bakso. Bentuknya yang kecil dijual dengan harga Rp 500 dan yang besar Rp 1.000 per buah. Sebuah sepeda jengki tua. Di stangnya ada terompet kecil yang dibunyikan ketika sepeda jalan, menandai bahwa tukang pentol sudah lewat. Aqua botol besar dan jerigen kecil warna putih menggantung di stang itu. Ujung gagang sebuah payung lusuh, yang melindungi penjual dari terik matahari, ditalikan di sadel tempat dudukan sepeda. Dua kotak wadah pentol bergantung di boncengan sepeda. Pada kotak sisi kiri, atasnya terbuat dari kaca berisi pentol terbuat dari bakwan. Sementara kotak sisi kanan berisi panci yang memuat pentol dari tepung rasa daging sapi. Telur dan tahu rebus juga ada di panci itu. Penjualnya bernama Suwoto (55). Memakai kaos hitam lengan panjang, warnanya sudah kusam. Celana bergurat hitam dan topi terbuat dari dau...