Posts

Showing posts with the label Jurnalistik

Huruf L Pengantar Petaka

Image
Bernas adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Jogjakarta. Pada 1990, Kelompok Kompas-Gramedia mengakuisisi Bernas menjadi bagian dari Persda, satu di antara anak perusahaannya. Karena satu huruf saja, harian ini pernah hampir digerebeg oleh massa. Sebab itulah, presisi sangat diutamakan dalam grup Kompas-Persda. Awalnya adalah ketika terbit perdana edisi berwarna. Sebelumnya, Bernas hanya terbit black-white setiap hari. Pada hari Minggu, medio 1991, diputuskan memuat berita tentang pagelaran busana di Inggris. Lalu, disepakati dengan judul ‘Pagelaran Musim Semi-Panas di Inggris.’ Dimuat dengan full color , seperempat halaman depan berisi foto para model yang cukup seksi. Pakaian minim dan penuh gebyar. Lazimnya busana musim semi dan panas di Barat. Hari Senin kondisi masih biasa. Selasa tidak ada respon berlebihan, Rabu juga adem ayem . Tiba-tiba, Kamis malam ada info dari jaringan Bernas , bahwa akan ada penyerbuan ke kantor redaksi Bernas . Malam itu berkumpul para a...

Penjaga Gawang Bahasa dan ‘Opini’

Image
Mungkin Anda adalah orang yang suka membaca rubrik Opini di Banjarmasin Post . Atau Anda pernah mencoba mengirim tulisan ke rubrik itu. Halaman rubrik itu berisi beberapa tulisan. Pertama, tajuk rencana yang menjadi suara redaksi. Kedua, kolom yang dijuduli ‘Suara Rekan’ yaitu tajuk dari koran-koran lain satu grup Kompas-Persda. Ketiga, kutipan pendapat dari masyarakat yang dimuat sesuai tema hari itu. Rubrik ini cukup berwibawa, katakanlah begitu. Menurut beberapa rekan, topik yang dimuat cukup hangat dan selalu aktual. Penyajian—yang tentunya sudah melalui proses editing ketat—juga mudah dipahami. Tampaknya, editor rubrik ini sudah ‘merenovasi’ kata-kata yang dibuat oleh penulis aslinya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Ketika mengirim tulisan dengan 700 kata, saat dimuat tinggal 500 kata. Dua ratus kata yang lain dipangkas habis. Tetapi, saya puas karena menghilangkan kalimat-kalimat yang tidak perlu. Sekaligus, saya makin penasaran dengan sosok yang menjadi penjaga gawang opi...

Kematian Hantu Mood

Image
Anda pernah mengalami sebuah kemalasan ketika melakukan aktivitas? Atau sebuah kebosanan yang menyesakkan? Merasa aktivitas yang sedang anda lakukan adalah sebuah rutinitas tiada guna? Butuh sebuah kemarahan untuk membuat dobrakan atas kejenuhan. Butuh sebuah kegeraman luar biasa terhadap gejala kemandegan berfikir. Dan yang jelas, butuh kekuatan jari yang mau menari ketika keinginan menulis itu padam. Benar kata para filosof, “aku berfikir maka aku ada”. Namun berfikir belum tentu menulis. Sementara itu, dapat menulis dipastikan berfikir pada saat yang sama. Saya yakin itu, walaupun William ’Sean Connery’ Forrester bilang bahwa menulis itu tidak perlu berfikir. Cukup gerakkan tanganmu. Tapi begitulah manusia, berfikir adalah pekerjaan azali. Manusia ditakdirkan memiliki kerutan-kerutan rumit di permukaan otaknya. Mungkin itu menjadi semacam kanal alur ide dan gagasan yang tersalur secara sempurna dalam keagungan penciptaan. Kita kenal yang namanya ‘mood’, atau setidaknya perna...

Dai Cilik di Televisi

Image
Televisi nampaknya makin cerdas untuk menarik pemirsanya. Berbagai macam bentuk tayangan dibuat sebagai sarana hiburan dan informasi. Seakan berlomba mereka menciptakan program acara yang menyentuh berbagai macam segmen. Dari anak-anak hingga kakek-nenek, disediakan program acara. Mulai dari jam penayangan hingga materi acara, mencoba disesuaikan dengan usia pemirsa. Namun, televisi tetaplah sebuah media yang dingin (cold medium) sebagaimana kata McLuhan. Media ini kaku dan tidak komunikatif. Ditonton orang atau tidak, dia tetap mengudara, sesuai waktunya. Akhirnya banyak tayangan yang harusnya dikonsumsi oleh orang dewasa menjadi tontonan anak-anak. Atau pada beberapa kondisi, acara yang harusnya untuk anak-anak justru “dimuati” dengan kepentingan orang dewasa. Karena itu, setiap acara TV haruslah kita cermati. Salah satu tayangan yang menarik dan nampaknya mendapat apresiasi positif dari masyarakat luas adalah Pemilihan Dai Cilik, yang biasa disingkat dengan Pildacil. Progra...

Mandul Setelah Menikah

Mohon jangan disalahpahami judul di atas. Semata-mata untuk memudahkan analogi saja. Tulisan ini berangkat dari beberapa kenyataan yang saya jumpai. Seorang kawan kenalan saya, adalah orang yang suka menulis. Apa saja dia tulis: kejadian hari ini, warna sandal baru, bentuk kemeja, joke dosen, hingga jajanan di kantin kampus. Tapi itu dulu. Saat masih kuliah. Saat masih berstatus mahasiswa. Saat ini, saya menyaksikan sebuah perubahan. Setelah bekerja dan menikah, justru seorang kawan saya itu mengalami kemandulan dalam berkarya. Setelah menggandeng seorang gadis, nampaknya agak terepotkan dengan agenda keluarga, dengan pekerjaan yang menumpuk dan entah kerewelan-kerewelan dengan segala variannya. Saya belum menikah. Dan belum pernah menikah. Ketika melihat sosok produktif di masa lalu--walaupun hanya tulisan-tulisan untuk diskusi limited group--mengalami gejala mandul dalam menulis seperti itu saya merenung. Kesibukan lapangan sering menyita waktu. Dal, sekali lagi, waktu disalahkan ata...

Menimbang Religiusitas Sinetron Kita

Image
Seorang wanita tuna susila berada dalam kamar bersama lelaki hidung belang. Sebelumnya sempat mengiba tangis dan berkata bahwa dia melakukan hal ini karena kondisi keuangan keluarga yang amburadul, suami tidak bekerja dan anak-anak butuh makan. Setelah selesai, dia menerima segepok uang sembari tersenyum. Adegan berikutnya adalah sang suami yang di rumah, bekerja keras, utang sana-sini, hidup dalam rumah reot. Akhir tayangan adalah matinya si istri durhaka dan mendapat azab di kuburnya. Judul sinetron kali ini adalah “Jenazah Digencet Kuburan.” Sinetron di atas, dimasukkan dalam genre “sinetron religius”. Asumsinya adalah mendakwahkan nilai-nilai keagamaan kepada pemirsa dan mendidik moral penonton agar semakin baik. Takut berbuat maksiat dan selalu mengingat Tuhan dalam seluruh detik hidupnya. Namun sudah tercapaikah keinginan itu? Atau, sebetulnya secara pelan tapi pasti telah terjadi pembodohan sistematik terhadap masyarakat awam? Menjawab pertanyaan ini, setidaknya terdapa...

Digugat Wartawan

Kamis malam (19/04) pukul 22.00 kami meninggalkan Banjarmasin. Menaiki sebuah mobil yang disediakan panitia. Satu mobil denganku adalah Arifin Noor, wartawan foto harian Kalimantan Post yang juga dosen komunikasi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) dan Iman salah seorang pegawai Qalam Borneo —lembaga training dan penerbit buku. Perjalanan menuju kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 4 jam perjalanan dari kota Banjarmasin. Perjalanan melalui Trans-Kalimantan. Melewati kota Banjarbaru jalan masih rata, saat sampai di jembatan Martapura jalan bopeng mulai banyak. Inilah yang menyebabkan minggu-minggu terakhir banyak protes. Baik di media massa, demonstrasi mahasiswa—dipelopori BEM Unlam dan BEM IAIN Antasari—hingga pemblokiran jalan oleh warga sendiri. Truk-truk pengangkut batu bara yang melewati jalan negara menyebabkan kerusakan fatal bagi jalan. Kondisi jalan semakin parah saat mobil menginjak wilayah Binuang dan Rantau, Kabupaten Tapin. Mata susah terpejam walaupun MP4 pla...

Kue Iklan Memang Nyaman

Malam ini, aku menemukan di meja salah satu teman editor, sebuah majalah yang luks tampilannya. Namanya majalah Dewi , salah satu dari grup Femina. Selain Dewi , Femina-Group menaungi Femina sendiri, Gadis (untuk remaja), Ayahbunda (pasangan muda), Fit (cantik, sehat, bugar), CitaCinta (wanita muda masa kini), Pesona (inspiration for u'r life), Men'sHealth (pria aktif dan modern), Seventeen (buat yang memutuskan jadi cantik), ReaderDigest (the little books thats a big read), Estetica (estetika Indonesia), dan Parenting (untuk jadi orang tua). Hebat bukan? Kembali ke Dewi , secara fisik memang majalah ini sangat mewah. Warnanya menyolok mata, gambar wanita cantik menghiasi sampul depannya. Sayang aku tidak terlalu memperhatikan namanya, sepertinya artis dari negeri seberang. Halaman dalam juga demikian, penuh dengan foto artis perempuan yang tidak malu dengan auratnya. Bahkan dieksploitasi untuk sebuah produk. Bahan kertasnya mengkilap, bahkan untuk bagian tengah memakai hardp...

Eksploitasi Anak di Televisi

Tulisan ini dimuat di harian Banjarmasin Post , 26 Februari 2007. Lihat Opini. Seiring gencarnya isu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ada hal yang menggelitik saya berkaitan dengan fenomena anak usia dini (AUD). Anak kita ini, sering menjadi objek dalam dunia periklanan Indonesia, terutama di televisi. Anak memiliki potensi sesuai aslinya, yaitu kejujuran berkata, kepolosan perilaku dan apa adanya. Saat ini, iklan di televisi kian beragam. Anak baik sebagai penyampai langsung atau figuran, berupaya mengajak pemirsa untuk mengonsumsi sebuah produk. Menjadi pertanyaan, benarkah anak an sich cukup menjadi daya tarik? Produsen makanan anak akan menggunakan anak (umumnya selebritis). Begitu pula kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan dunia mereka. Di sini, anak masih dominan sebagai daya tarik. Atau dimaksudkan oleh produsen sebagai ‘pengatrol’ angka penjualan. Ada yang patut dicemaskan tentang posisi anak sebagai penyampai pesan, yakni pembudayaan berbohong kepada khalayak. Anak dilat...

Pers, Globalisasi dan Pencerdasan Masyarakat

Image
Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Harian Banjarmasin Post , edisi 9 Februari 2007. Lihat Opini KEMBALI kita berjumpa dengan tanggal 9 Februari. Tanggal yang secara resmi diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Tanggal ini, secara historis, diambil dari saat pertama pendirian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tanggal 9 Februari 1946 di Solo. Setelah kedaulatan bangsa, PWI secara resmi berdiri di Jakarta yang selanjutnya mengkoordinir pers secara nasional. Hal ini secara langsung juga menjadi sebuah bentuk kontrol terhadap media massa selama Orde Baru berkuasa. Praktis, satu-satunya organisasi kuli tinta yang berdiri dan mendapat pengakuan negara saat itu adalah PWI. Tidak dapat dipungkiri, pernah terjadi sebuah masa dimana keanggotaan dalam PWI menjadi legitimasi bagi kewartawanan seseorang. Namun di sini penulis tidak ingin mengungkapkan atau mempertentangkan bentuk keberpihakan politik pers tersebut. Terlebih, saat ini sudah sangat banyak organisasi pers yang berdiri...