Posts

Showing posts with the label Sosial Politik

Konflik dan Kedewasaan Politik

Image
Hari ini, sepuluh tahun yang lalu, Banjarmasin porakporanda. Kerusuhan pertama di negeri ini sebelum turunnya Soeharto adalah di kota ini. Reformasi bergulir setahun sebelumnya. Ditandai dengan api, asap dan nyawa yang melayang. Saya hanya bisa merekam dari cerita-cerita kenalan di sini, tentang saudara mereka yang tidak kembali hingga sekarang. Lalu, apa masalah utamanya? *** Dalam sejarah, bulan Mei menyisakan kesesakan dada bagi banyak warga negara ini. Ada haru biru bahagia, ada desah kesedihan, ada juga guratan kekecewaan. Di bulan Mei, hampir seluruh kota-kota di Indonesia memiliki momentum historis yang tidak layak untuk dilupakan. Terlebih momentum itu telah membekas dalam denyut kehidupan sosial politik masyarakat, sebagai sebuah fase yang memang harus dilalui dalam jejakan demokratisasi bangsa. Seluruh penduduk Kalimantan Selatan, tentunya tidak akan pernah melupakan tragedi Jumat Kelabu, 23 Mei 1997. Genap sepuluh tahun yang lalu, kota Banjarmasin dicekam ketakutan, dihantam...

Kaizen, Tajdid dan Kebangkitan Bangsa

Image
Setelah melalui sebuah fase sejarah spektakuler yang menciptakan nasionalisme sektarian, Jepang merasa diri menjadi besar. Lalu, muncul ambisi untuk menguasai dunia. Jepang mencanangkan diri sebagai penguasa Asia Timur Raya. Atas motif provokasi, Jepang lalu menyerang Amerika. Di pagihari, 8 Desember 1941, pesawat dan kapal selam Jepang mengadakan serangan mengejutkan pada Amerika yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Pearl Harbor. Pemboman ini kemudian membawa Amerika ke kancah Perang Dunia II. Amerika membalas dengan serangan telak, berupa pemboman dua kota penyangga ekonomi Jepang: Hiroshima dan Nagasaki. Dua kota itu hancur, dan Jepang terhenyak lalu mundur teratur. Kaisar Hirohito yang sangat dimuliakan rakyatnya memerintahkan agar perang dihentikan. Balatentara Dai Nippon yang bersemboyan Asia Timur Raya akhirnya takluk tanpa syarat kepada Sekutu dalam PD II yang menelan korban jutaan orang. Seluruh pasukan yang masih tersisa ditarik kembali. Namun, akhirnya Jepang mampu bang...

Pekerja dan Regulasi Negara

Image
Untuk MayDay Berapa jumlah buruh yang ada di Indonesia? Tentunya sangat banyak. Seluruh pekerjaan fisik yang menguras tenaga dan mencurahkan keringat dilakukan oleh buruh fisik. Sementara itu, sebagian kalangan juga menyebut guru sebagai ‘pekerja pendidikan’, atau wartawan dengan istilah ‘kuli tinta’. Kaum pekerja, adalah kaum mayoritas di negeri ini. Keberadaan mereka menjadi penopang bagi aktivitas seluruh elemen—baik pemerintah maupun swasta—di berbagai tingkatan. Tanpa adanya orang-orang yang menggerakkan badan dan mengasah otak demi tercapainya sebuah tujuan korporasi, maka tidak akan tercipta apapun jua. Ada tiga hal yang ingin ditelisik melalui tulisan ini. Pertama adalah tentang jaminan kesejahteraan pekerja, kedua tentang asuransi bagi pekerja dan ketiga adalah kaitan antara investasi dan regulasi baru pemerintah yaitu UU PMA (Penanaman Modal Asing) dengan tenaga kerja Indonesia. Pertama adalah masalah jaminan kesejahteraan pekerja. Berdasar riset ILO (Internation...

Konstitusi Sebagai Kiblat?

Tulisan ini lahir saat terjadinya sebuah drama satire politik di sebuah lembaga dewan. Ijinkan aku menyebutnya kekonyolan politik para pencari kursi. Begini ceritanya, Partai Keadilan Sejahtera mendapatkan kursi mayoritas di DPRD Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Tetapi, itu tidak secara otomatis mengangkat kadernya sebagai ketua DPRD. Koalisi besar lintas parpol--persis seperti yang erjadi di DKI sekarang--menghadang lajunya kader PKS ke kursi ketua dewan. Tidak cukup itu, kini yang kedua kalinya dilakukan langkah penjegalan oleh koalisi lintas parpol. Tuntutannya satu: pecat para wakil ketua DPRD. Dua wakil ketua DPRD ini adalah Faqih Jarjani dan Sirajul Rahman, keduanya dari PKS. Alasannya adalah mekanisme pengangkatan Sekwan yang dianggap menyalahi undang-undang. Kini, renunganku ada pada masalah konstitusi. Konstitusi menjadi koridor bergerak dalam bernegara. Jika ini saling berlawanan, mana yang dimenangkan? Jika ini terus dibiarkan, aku yakin, akan makin banyak sengketa dalam masyar...

Fenomena Kekerasan Polisi

Image
Tulisan dimuat hari ini di Banjarmasin Post . Lihat Opini Dalam satu minggu terakhir, dua kali diberitakan tentang kekerasan aparat kepolisian. Tindakan yang dilakukan, di luar batas kewajiban dan perkara yang harusnya ditangani. Kasus yang bisa dicatat adalah pengeroyokan polisi terhadap warga di Paringin (Balangan) dan yang terakhir penembakan oleh Briptu Hance Christian terhadap atasannya Wakil Kepala Polwiltabes Semarang, AKBP Lilik Purwanto. Fenomena kekerasan polisi ini pantas menjadi renungan bagi kita. Tugas utama polisi adalah melindungi dan mengayomi masyarakat, namun kenapa pelanggaran justru terjadi oleh aparatnya sendiri? Tentunya bukan secara institusional kepolisian yang bersalah, tetapi keberadaan personil yang melakukan kriminal tersebut telah mencoreng nama baik korps. Dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri, antara lain menetapkan kedudukan Polri sebagai alat negara yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang kepolisian preventif dan represif dalam rangka criminal...