Posts

Showing posts with the label Keislaman

Teknologi dan Efisiensi Beragama

Bagaimana pendapat anda misalnya, seorang khatib Jumat menggunakan multimedia dalam menyampaikan materi khutbahnya? Saya yakin ada yang setuju ada pula yang menolaknya. Saat mengikuti Jumatan kemarin, tiba-tiba terfikir oleh saya akan pertanyaan ini. Gagasan yang saya pikir cukup menarik untuk didiskusikan. Ada yang mendasari hal ini. Fenomena banyaknya jamaah sholat yang memilih untuk tidur ketika khatib mulai naik mimbar. Saya belum pernah melakukan survei, namun saya yakin bahwa hanya sedikit dari jamaah sholat yang menangkap maksud dari khatib. Rasanya sia-sia jika sang khatib yang sudah mempersiapkan materi, menyampaikannya dengan suara yang menggelegar, dan hanya didengarkan sedikit orang. Godaan syetan. Mungkin itu jawaban yang akan diberikan ketika ditanyakan, ”mengapa tidur saat khutbah?” Terlepas dari faktor itu, setidaknya perlu ada upaya agar kengantukan dapat diantisipasi. Salah satunya adalah dengan penggunaan multi media. Saya membayangkan di sebuah masjid disediakan...

Andaikan Maslow Memahami Ramadhan

Image
Perilaku manusia modern sudah diamati oleh Abraham Maslow (1908-1970) dengan seksama. Mereka yang mencari penghidupan, mendapatkan sesuatu yang dianggap berharga dan menunjukkan prestasi. Lalu gejala sosial ini digeneralisasi ilmuwan itu hingga terkonstruk seperangkat teori perilaku manusia. Karena itu, kategorisasi yang berbentuk piramida kebutuhan manusia itu sangat akrab bagi ilmuwan lintas-akademis. Demikian terkenalnya, hingga psikolog, ekonom, manajer, politisi, sosiolog, antropolog dan lainnya meminjam Teori Maslow untuk menganalisis disiplin ilmunya. Bagaimana relevansi teori ini dalam kehidupan manusia? Tulisan ini akan menjadi kritik terhadap teori yang sudah sedemikian mapan dan dianut oleh hampir seluruh intelektual ketika mendefinisikan manu sia. Hal ini akan menjadi menarik jika teori Maslow dikaitkan dengan (ibadah) puasa yang saat ini dijalankan oleh kaum muslimin sedunia. Ada koreksi fundamental ketika memperhadapkan vis-a-vis antara teori Maslow dengan pemahaman p...

Merdeka Ketika Bertauhid

Image
Setiap orang tentu memiliki definisi yang berbeda-beda tentang makna kemerdekaan. Ada yang mengatakan kemerdekaan identik dengan kemandirian, yaitu keterlepasan dari segala ketergantungan (dependent) terhadap sesuatu. Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), kata Bung Karno. Sementara yang lain mengatakan merdeka adalah kebebasan (freedom) untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendak hati nurani. Bebas mengekspresikan diri, bebas mengurus keperluan diri sendiri. Kata ‘merdeka’ merupakan serapan dari bahasa Sansekerta mahardhika , dalam bahasa Arab kita kenal kata daulat dan dalam bahasa Inggris adalah independent . Sementara itu, rujukan resmi segala definisi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjelaskan kata ‘merdeka’ yang artinya “bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa.” Dalam konteks kemerdekaan sekarang ini, perlu kita maknai kembali k...

Rezeki, Iman, dan Kemiskinan

Image
Suatu saat seorang kawan berujar, “sudah beribadah setiap hari, sholat lima waktu tekun dilaksanakan, bahkan dzikir harian tidak pernah terlewati, tetapi mengapa rezeki yang luas tidak kunjung turun?” Seorang kawan yang lain menimpali, “banyak orang-orang yang jarang ke masjid, melalaikan sholat dan bahkan tidak beriman kepada Allah, tetapi hidup mereka serba kecukupan, fasilitas hidup lengkap dan anak-anak mereka berbahagia.” Ungkapan seperti itu, seringkali kita dengar. Lalu terfikirlah dalam benak saya tentang relevansi antara rezeki dan tingkat keimanan. Adakah relevansi dan korelasi positif—jika iman maka kaya—ataukah sama sekali tidak berhubungan? Sementara itu, bagaimana dengan faktor luar: sistem, struktur dan birokrasi negara, apakah mereka berperan penting? Pertama yang ingin saya uraikan adalah mengenai kalimat “rezeki itu sudah ditetapkan Allah.” Selain rezeki, yang sudah ditetapkan oleh Allah adalah nyawa dan jodoh. Imam Ghazali pernah mengatakan , “Dia (Allah) y...

Khilafah atas Bumi

Image
Ketika Adam diturunkan ke muka bumi, sesungguhnya membawa misi kepemimpinan yang berat. Setelah gunung, langit dan samudera tidak mampu mengembannya. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’ (al-Baqarah: 30). Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa ternyata misi kepemimpinan Adam awalnya mendapatkan reaksi berupa ungkapan keraguan dari malaikat. Saat itu malaikat berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu.” Keraguan malaikat ini mendapat jawaban dari Allah, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Keraguan malaikat dilatarbelakangi oleh keterbatasan pengetahuannya tentang kemampuan atau kualitas-kualitas yang dimiliki oleh manusia. Selain juga kekhawatiran bahwa Adam akan membuat kerusakan pada bumi. Baru setelah Adam menjelaskan “nama...

Tauhid Tiga Detik

Refleksi keimanan adalah terbentuknya sikap mental seorang muslim yang kokoh. Bukan hanya itu, selanjutnya seorang muslim mampu menampakkan keimanannya dalam seluruh sendi kehidupan, termasuk tata pergaulan dan sistem pemerintahan. Memiliki iman berarti memiliki keyakinan akan hal gaib yang mengatur manusia. Dzat Mahakuasa yang mengendalikan seluruh alam semesta. Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk yang seringkali terlupa dan silap dalam hidupnya. Al-Quran memperingatkan hal ini, “dan janganlah kamu lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa pada diri sendiri” (al-Hasyr: 19). Meskipun demikian, seluruh manusia pernah mengecap naluri keimanan. Raja-raja kafir yang diceritakan al-Quran—yang memusuhi para utusan Allah—juga pernah merasakan itu. Hanya saja, tauhid mereka tidak lebih dari tiga detik. Fragmen pertama ditampakkan oleh Namrudz, raja yang memusuhi Ibrahim ‘ alaihis salam . Kala itu, Ibrahim menghancurkan seluruh berhala yang memenuhi istana Namrudz. Ibrahim di...

Khilafah yang Khilafiyah

Sejarah Islam menorehkan sebuah catatan berharga, Muhammad memang diutus untuk memberi kabar gembira bagi seluruh umat manusia. Kabar kemenangan yang bersifat ukhrawi , kebahagiaan surga abadi bagi manusia-manusia beriman. Sekaligus, pada saat yang sama memberi petunjuk keteraturan dalam bentuk praktek negara Madinah. Konstruksi negara Madinah lalu diadopsi secara konseptual oleh para ilmuwan modern sebagai negara madani, dengan maksud mengambil spirit keadilan yang telah dipraktekkan oleh generasi pertama Islam ini. Generasi khilafah rasyidah empat sahabat mulia (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) masih mencatat keberhasilan implementasi ajaran Tuhan. Hanya saja, dalam perjalanan sejarah berikutnya, fragmen penuh darah sempat diperlihatkan oleh penerusnya. Bahkan cucu tersayang Rasulullah, yaitu Husein bin Ali wafat di Padang Karbala. Nasib buruk kaum muslimin lalu jatuh dalam otoritarianisme Muawiyah dan Abbasiyah. Walaupun tetap merupakan negara Islam, namun banyak catatan bagi dua ...

Imlek dan Spirit Islam

Image
Tanggal 18 Februari dirayakan oleh seluruh keturunan Tionghoa di seluruh dunia sebagai Hari Raya Imlek 2558. Bertepatan dengan tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek. Di Indonesia, berawal dari kebebasan yang diberikan Presiden Abdurrahman Wahid tahun 2000, penetapan libur fakultatif oleh Menteri Agama tahun 2001, hingga penetapan libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri melalui SK Presiden RI No 19, April 2002. Hal ini merupakan kebijakan yang toleran dan menempatkan etnis Tionghoa setara dengan warga negara Indonesia lainnya. Keputusan pemerintah ini sejalan dengan proses reformasi, setelah pada periode Orde Baru, Soeharto melakukan represi yang mendiskriminasi etnis Tionghoa. Pemerintah Orde Baru, lewat Instruksi Presiden no. 14/1967, dengan tegas melarang segala bentuk kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Alasannya yakni jika berbagai kegiatan tersebut tetap dilakukan, ditakutkan para warga keturunan Tionghoa lebih pro pada negara asalnya dibanding pada Indone...