Dengarkan Kata-kataku
Secepat mungkin engkau harus berhenti
menghabiskan nafas di luar
Kenikmatan dunia sering membuat lena
Tak ada yang dapat mencegah selain engkau sendiri
Sebelum terjerumus makin jauh
sebaiknya engkau berhenti
Secepat mungkin engkau harus pulang
menghabiskan mimpi yang hilang
Kenyataan hidup terkadang menyakitkan
tak ada yang mampu merubah selain engkau sendiri
Sebelum senja merebut mentari
sebaiknya engkau berhenti
Secepat mungkin engkau harus padamkan
bara api panas membakar
Gemerlap cahaya akan segera sirna
bersama turunnya senja
Dengarkanlah dengan hatimu
Jangan engkau dengar dengan jiwa buta
Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau melihat siapa aku
Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau meliahat siapa aku
Dengarkanlah dengan hatimu.[*]
***
Sekali lagi, Ebiet menyadarkan kita. Pilihan hidup itu harus berpihak pada nurani. Labirin hati ini kita sendiri yang tahu kemana arahnya. Orang lain tak ada yang mampu membaca siapa dan bagaimana kita. Kembali pada nurani itu petunjuk yang paling utama.
"Sebelum senja merebut mentari, sebaiknya engkau berhenti." Apakah pernah dalam hidup, engkau merasa berbuat dosa dan pengkhianatan? Jika iya, segeralah berhenti. Sebelum senja merebut mentari. Hanya ada gulita tanpa pelita. Pelihara mentari dalam nurani. Ikhlas, sabar, doa dan ikhtiar. Semoga Allah memberi petunjuk bagi mereka yang berserah diri.[]
Benar...
ReplyDeleteTerkadang kita hanyut dalam suatu aliran arus yang menarik kita dalam deras riaknya..
Terkadang kita sulit melepaskan diri...
Alur hidup bak arus itu...
Namun...
Hidup itu pilihan, banyak retorika pemikiran dan pilosofi yang mewarnai sebuah keputusan kala kita memilih alur mana yang terbaik.
Hanya kita sendiri yang tahu... ke mana biduk hidup akan kita kayuh...
Angela