Rezeki, Iman, dan Kemiskinan
Suatu saat seorang kawan berujar, “sudah beribadah setiap hari, sholat lima waktu tekun dilaksanakan, bahkan dzikir harian tidak pernah terlewati, tetapi mengapa rezeki yang luas tidak kunjung turun?” Seorang kawan yang lain menimpali, “banyak orang-orang yang jarang ke masjid, melalaikan sholat dan bahkan tidak beriman kepada Allah, tetapi hidup mereka serba kecukupan, fasilitas hidup lengkap dan anak-anak mereka berbahagia.” Ungkapan seperti itu, seringkali kita dengar. Lalu terfikirlah dalam benak saya tentang relevansi antara rezeki dan tingkat keimanan. Adakah relevansi dan korelasi positif—jika iman maka kaya—ataukah sama sekali tidak berhubungan? Sementara itu, bagaimana dengan faktor luar: sistem, struktur dan birokrasi negara, apakah mereka berperan penting? Pertama yang ingin saya uraikan adalah mengenai kalimat “rezeki itu sudah ditetapkan Allah.” Selain rezeki, yang sudah ditetapkan oleh Allah adalah nyawa dan jodoh. Imam Ghazali pernah mengatakan , “Dia (Allah) y...