Posts

Showing posts from May, 2007

Doakan Kami

Kawan-kawan sekalian, saya baru pulang dari sebuah pertemuan yang cukup membuat saya bergairah. Sesuatu yang membuat saya berdebar, penuh harap, dan membinarkan sorot mata saya. Ibaratnya, pijar-pijar yang muncul dari sebuah instalasi. Itulah debaran semangat dan gairah yang menyelimuti batin saya sekarang. Memang, setiap selesai melakukan sebuah aktivitas, yang itu memiliki sebuah kaitan dengan visi masa depan, selalu saya sangat bergembira. Terlebih itu memiliki kecocokan dengan cita-cita besar saya, minat hidup saya dan impian lama semenjak mengenal dunia. Kawan-kawan, saya ingin berbagi saja. Sekiranya nanti di antara anda ada yang berminat untuk umpat (bergabung, bhs. Banjar), maka sebuah kebahagiaan bagi kami. Ya, pertemuan tadi bukanlah sesuatu yang biasa. Bersama seorang doktor manajemen publik dari Universitas Brawijaya dan beberapa master dari UGM. Kami berkumpul di Rumah Makan Sari Patin Kayutangi, tepat di meja paling belakang yang sejuk. Ditemani suara gemericik kolam keci...

Dai Cilik di Televisi

Image
Televisi nampaknya makin cerdas untuk menarik pemirsanya. Berbagai macam bentuk tayangan dibuat sebagai sarana hiburan dan informasi. Seakan berlomba mereka menciptakan program acara yang menyentuh berbagai macam segmen. Dari anak-anak hingga kakek-nenek, disediakan program acara. Mulai dari jam penayangan hingga materi acara, mencoba disesuaikan dengan usia pemirsa. Namun, televisi tetaplah sebuah media yang dingin (cold medium) sebagaimana kata McLuhan. Media ini kaku dan tidak komunikatif. Ditonton orang atau tidak, dia tetap mengudara, sesuai waktunya. Akhirnya banyak tayangan yang harusnya dikonsumsi oleh orang dewasa menjadi tontonan anak-anak. Atau pada beberapa kondisi, acara yang harusnya untuk anak-anak justru “dimuati” dengan kepentingan orang dewasa. Karena itu, setiap acara TV haruslah kita cermati. Salah satu tayangan yang menarik dan nampaknya mendapat apresiasi positif dari masyarakat luas adalah Pemilihan Dai Cilik, yang biasa disingkat dengan Pildacil. Progra...

Mandul Setelah Menikah

Mohon jangan disalahpahami judul di atas. Semata-mata untuk memudahkan analogi saja. Tulisan ini berangkat dari beberapa kenyataan yang saya jumpai. Seorang kawan kenalan saya, adalah orang yang suka menulis. Apa saja dia tulis: kejadian hari ini, warna sandal baru, bentuk kemeja, joke dosen, hingga jajanan di kantin kampus. Tapi itu dulu. Saat masih kuliah. Saat masih berstatus mahasiswa. Saat ini, saya menyaksikan sebuah perubahan. Setelah bekerja dan menikah, justru seorang kawan saya itu mengalami kemandulan dalam berkarya. Setelah menggandeng seorang gadis, nampaknya agak terepotkan dengan agenda keluarga, dengan pekerjaan yang menumpuk dan entah kerewelan-kerewelan dengan segala variannya. Saya belum menikah. Dan belum pernah menikah. Ketika melihat sosok produktif di masa lalu--walaupun hanya tulisan-tulisan untuk diskusi limited group--mengalami gejala mandul dalam menulis seperti itu saya merenung. Kesibukan lapangan sering menyita waktu. Dal, sekali lagi, waktu disalahkan ata...

Konflik dan Kedewasaan Politik

Image
Hari ini, sepuluh tahun yang lalu, Banjarmasin porakporanda. Kerusuhan pertama di negeri ini sebelum turunnya Soeharto adalah di kota ini. Reformasi bergulir setahun sebelumnya. Ditandai dengan api, asap dan nyawa yang melayang. Saya hanya bisa merekam dari cerita-cerita kenalan di sini, tentang saudara mereka yang tidak kembali hingga sekarang. Lalu, apa masalah utamanya? *** Dalam sejarah, bulan Mei menyisakan kesesakan dada bagi banyak warga negara ini. Ada haru biru bahagia, ada desah kesedihan, ada juga guratan kekecewaan. Di bulan Mei, hampir seluruh kota-kota di Indonesia memiliki momentum historis yang tidak layak untuk dilupakan. Terlebih momentum itu telah membekas dalam denyut kehidupan sosial politik masyarakat, sebagai sebuah fase yang memang harus dilalui dalam jejakan demokratisasi bangsa. Seluruh penduduk Kalimantan Selatan, tentunya tidak akan pernah melupakan tragedi Jumat Kelabu, 23 Mei 1997. Genap sepuluh tahun yang lalu, kota Banjarmasin dicekam ketakutan, dihantam...

Seribu Lilin di IAIN Antasari

Image
Minggu malam, 20 Mei 2007, saya memasuki gerbang kampus IAIN Antasari. Saat itu sudah pukul setengah sepuluh malam. Semenjak dari depan gerbang, sepanjang 20 meter ke dalam, kanan kiri jalan dan boulevard kampus penuh dengan lilin. Kerlap-kerlipnya nampak indah dan menimbulkan kesan syahdu. Keheningan yang tercipta sangat cocok untuk refleksi. Ratusan batang lilin lain menyala memenuhi taman, pinggir jalan dan lapangan kampus. Ternyata benar, di halaman Perpustakaan Pusat IAIN Antasari, seratus lebih mahasiswa dan beberap masyarakat berkumpul. Di depan mereka sebuah layar putih menampilkan film. Saya sangat hapal, karena berkali-kali menonton film itu, yakni Tragedi Reformasi 1998. Seperti layar tancap di alam terbuka, penonton menatap dengan seksama. Polisi dan pasukan anti huru-hara mengejar mahasiswa yang hanya bisa berteriak, "Hidup Reformasi". Lalu tendangan dan pukulan aparat menghampiri tubuh kurus dan rambut yang gondrong itu. Malam itu, refleksi reformasi dilakukan d...

Gerak Jalan yang Fantastik

Image
Malam itu, kami menginap di pendapa bupati Hulu Sungai Selatan. Pendapa yang luas itu memiliki dua lokal, depan dan belakang. Yang depan hanyalah aula yang luas, sementara sebelah dalam aula yang di setiap sudutnya terdapat kamar. Di kamar itulah saya tidur bersama tiga tokoh politik yang saya bersamai. Sepertinya, kamar ini memang biasa untuk menginap para tamu pejabat. Standar hotel bintang 3, lengkap dengan kamar mandi dalam, AC, TV dan minuman ringan di kulkas dinginnya. Nyaman jua, pang . Sesuai kesepakatan, acara pokok kedatangan Habib ke kota Kandangan ini adalah untuk melepas dan mendampingi para peserta jalan sehat yang diorganisir oleh Amandit Event Organizer , sebuah lembaga pengembangan dari Radio Gema Amandit milik Pemda HSS. Selain itu, bekerjasama dengan Indosat, Fatigon dan tentu saja Partai Keadilan Sejahtera yang mendapat pemilih terbesar di kabupaten ini. Pagi itu, saya bangun, segera mempersiapkan perangkat kerja. Handycam, kamera digital dan MP4 recorder sudah ad...

Bersama Habib Aboe Bakar al-Habsyi

Image
Sebelumnya, saya sudah pernah mengikuti perjalanan seorang habib, yaitu Habib Nabiel Fuad al-Musawa . Kemarin, aku mendapat kesemptan lagi untuk membersamai habib yang lain, yang memiliki karakter khas: Habib Aboe Bakar al-Habsyi. Hari Sabtu pagi, saya berangkat ke Kandangan, ibukota Hulu Sungai Selatan. Ini kali yang kedua saya ke Kandangan setelah Pelatihan Jurnalistik kemarin. Satu mobil itu adalah Pak Riyadi (Ketua DPW PKS Kalsel), Pak Riswandi (Wakil Ketua DPRD Kalsel) dan Habib Aboe Bakar al-Habsyi yang kebetulan juga anggota Komisi V (Perhubungan) DPR RI dari FPKS. Dan posisi saya sebagai pewarta yang harus meliput dan melaporkan kepada publik tentang kegiatan mereka itu. Perjalanan lancar saja, mobil Innova yang disopiri Ketua DPW PKS itu berjalan mulus di jalanan trans Kalimantan. Kami berhenti di sebuah rumah makan di Banjarbaru, soto Banjar yang lezat dan "mak nyuuss" (menirukan pak Bondan, pakar tata boga yang biasa muncul di acara Wisata Kuliner itu) terasa di l...

Kaizen, Tajdid dan Kebangkitan Bangsa

Image
Setelah melalui sebuah fase sejarah spektakuler yang menciptakan nasionalisme sektarian, Jepang merasa diri menjadi besar. Lalu, muncul ambisi untuk menguasai dunia. Jepang mencanangkan diri sebagai penguasa Asia Timur Raya. Atas motif provokasi, Jepang lalu menyerang Amerika. Di pagihari, 8 Desember 1941, pesawat dan kapal selam Jepang mengadakan serangan mengejutkan pada Amerika yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Pearl Harbor. Pemboman ini kemudian membawa Amerika ke kancah Perang Dunia II. Amerika membalas dengan serangan telak, berupa pemboman dua kota penyangga ekonomi Jepang: Hiroshima dan Nagasaki. Dua kota itu hancur, dan Jepang terhenyak lalu mundur teratur. Kaisar Hirohito yang sangat dimuliakan rakyatnya memerintahkan agar perang dihentikan. Balatentara Dai Nippon yang bersemboyan Asia Timur Raya akhirnya takluk tanpa syarat kepada Sekutu dalam PD II yang menelan korban jutaan orang. Seluruh pasukan yang masih tersisa ditarik kembali. Namun, akhirnya Jepang mampu bang...

Memaknai Rutinitas

Image
Tadi malam, secara tidak sengaja saya memutar radio. Bertemu dengan channel SmartFM 101,1 Banjarmasin. Dan, di sana ada suara Prie GS, karena memang acaranya adalah "Refleksi Bersama Prie GS", sang budayawan itu. Akhirnya saya putuskan tetap di channel favorit itu, mendengarkan ujaran-ujaran kontemplatif dari mas Prie GS yang siaran dari Smart FM Semarang. Awalnya, mas Prie bercerita tentang got yang selebar rumahnya, tepat berada di depan rumah. Got itu mengalir, penuh dengan sampah yang bermacam jenis. Salah satu yang paling banyak--dan dibenci--adalah sampah plastik, yang jelas sulit terurai. Kecuali setelah ratusan tahun. Got yang kotor itu, dibersihkan oleh mas Prie. Pagi hari membersihkan, seluruh sampah diangkat sehingga alirannya lancar kembali. Ternyata, saat menjelang sore, got yang bersih tadinya, sekarang penuh dengan sampah yang entah berasal dari mana. Hal itu belum diambil pusing. Esok paginya, mas Prie melakukan aktivitas biasa: membersihkan got. Semata-mata, ...

Mengenang Jejak Demonstran

Image
Bulan Mei diperingati seluruh elemen masyarakat sebagai bulan Reformasi, saat negara berbenah melalui momentum 1998. Saat mahasiswa menggugat kemapanan struktur pemerintahan, saat mahasiswa turun ke jalan meneriakkan kebenaran—sekaligus menawarkan gagasan muda tentang sistem bernegara yang baru. Mungkin tidak matang, tapi setidaknya ada itikad baik dari generasi baru bangsa ini. Mengingati seluruh detik-detik bersejarah dalam bingkai kemahasiswaan, haruslah ada refleksi mendalam tentang seluruh perjalanan ini. Sudah berapa tahun semenjak 98, sudah sembilan tahun! Jika tidak terjadi apapu, mungkin anak muda harus kembali menguasai parlemen jalanan. Biarkan rakyat bicara. Mumpung, masih ada, sekalian saya ingin nostalgia masa lalu. Saat suara lantang masih bisa keluar dari tenggorokan. Dulu, di jalanan Jogjakarta: Harian Bernas , 24 April 2003 Besok Siaga Satu Gulingkan Mega-Hamzah Yogya, Bernas Berbagai elemen anti pemerintahan Megawati Soekarnoputi- Hamzah Haz akan me...

Demi Matahari

Image
Entah mengapa, tiba-tiba surah al-Syams menancap kuat di benak saya. Dan saya yakin, 150-an peserta Training ESQ Profesional Angkatan 21 Banjarmasin mengalami hal yang sama. Kalimat "Wasyamsi wadhuha ha..." itu diterjemahkan dan menjadi ciri khas para alumni ESQ. Bagaimana tidak, setiap awal sesi, trainer kami (Legisan Sugimin) selalu mengawali presentasi dengan potongan ayat itu. Saya baru saja pulang dari sebuah petualangan religius dan spiritual. Selama tiga hari (Jumat-Ahad, 4-6 Mei 2007), saya mendapat pengalaman yang cukup spektakuler. Bertempat di Hotel Banjarmasin International (HBI) Banjarmasin, tepatnya di Himalaya Ball Room, sekitar 200 orang berkumpul untuk bersama menikmati “karya ilmiah” yang disusun oleh spiritualis modern Indonesia: Ary Ginanjar Agustian. Jika harus mengurai ilmu yang dijelaskan, jelas saya tidak akan sanggup. Selama 3 x 12 jam, mata, otak dan hati seluruh peserta dibombardir dengan keagungan Tuhan. Kenyataan ilmiah, bukti ayat Tuhan ( qaul...

Menimbang Religiusitas Sinetron Kita

Image
Seorang wanita tuna susila berada dalam kamar bersama lelaki hidung belang. Sebelumnya sempat mengiba tangis dan berkata bahwa dia melakukan hal ini karena kondisi keuangan keluarga yang amburadul, suami tidak bekerja dan anak-anak butuh makan. Setelah selesai, dia menerima segepok uang sembari tersenyum. Adegan berikutnya adalah sang suami yang di rumah, bekerja keras, utang sana-sini, hidup dalam rumah reot. Akhir tayangan adalah matinya si istri durhaka dan mendapat azab di kuburnya. Judul sinetron kali ini adalah “Jenazah Digencet Kuburan.” Sinetron di atas, dimasukkan dalam genre “sinetron religius”. Asumsinya adalah mendakwahkan nilai-nilai keagamaan kepada pemirsa dan mendidik moral penonton agar semakin baik. Takut berbuat maksiat dan selalu mengingat Tuhan dalam seluruh detik hidupnya. Namun sudah tercapaikah keinginan itu? Atau, sebetulnya secara pelan tapi pasti telah terjadi pembodohan sistematik terhadap masyarakat awam? Menjawab pertanyaan ini, setidaknya terdapa...