Posts

Showing posts from August, 2007

Merdeka Ketika Bertauhid

Image
Setiap orang tentu memiliki definisi yang berbeda-beda tentang makna kemerdekaan. Ada yang mengatakan kemerdekaan identik dengan kemandirian, yaitu keterlepasan dari segala ketergantungan (dependent) terhadap sesuatu. Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), kata Bung Karno. Sementara yang lain mengatakan merdeka adalah kebebasan (freedom) untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendak hati nurani. Bebas mengekspresikan diri, bebas mengurus keperluan diri sendiri. Kata ‘merdeka’ merupakan serapan dari bahasa Sansekerta mahardhika , dalam bahasa Arab kita kenal kata daulat dan dalam bahasa Inggris adalah independent . Sementara itu, rujukan resmi segala definisi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjelaskan kata ‘merdeka’ yang artinya “bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa.” Dalam konteks kemerdekaan sekarang ini, perlu kita maknai kembali k...

‘Kemerdekaan Sejarah’ dan ‘Sejarah Kemerdekaan’

Oleh: Amin Sudarsono [1] “Cepat atau lambat, setiap bangsa yang ditindas pasti memperoleh kemerdekaannya kembali; itulah hukum sejarah yang tidak dapat dimungkiri. Hanya soal proses dan cara bagaimana mereka memperoleh kembali kemerdekaan itu yang tergantung pada mereka yang pada saat itu memegang kekuasaan.” —Moh. Hatta dalam Indonesia Merdeka, 1924. Sejarah adalah sebuah relativitas. Karena itu, memahami sebuah narasi historis memerlukan interpretasi yang kontekstual dan manyeluruh untuk menghindari pemihakan secara apriori. Sebuah teks yang diwariskan secara turun temurun sebagai transmiter historis [2] ditafsirkan menurut basis ideologi setiap narator. Biasanya, dalam sejarah sebuah bangsa, penguasa memegang otoritas kebenaran sejarah. Semata karena ada vested interest yang bermain di sana. Karena setiap ilmu tidak neutral value , melainkan value-laden (dimuati nilai-nilai). Menulis sejarah bukanlah sebuah tugas yang mudah. Berbeda dengan penulisan sejarah masa lal...

Mereka Dipelihara Lampu Merah

Tulisan di B anjarmasin Post, 1 Agustus 2007 Ketika kita berjalan melewati sepanjang Jalan Ahmad Yani, di setiap lampu merah pasti bergerombol anak-anak kecil. Pakaian mereka kusut, berdebu, dan banyak yang kedodoran. Karena memang itu pemberian orang. Itupun tak pernah dicuci. Terfikir di benak saya tentang korelasi yang ambigu antara religiusitas masyarakat Kalsel (terutama Banjarmasin) dengan kenaikan jumlah anak jalanan ini. Tentunya maksud religiusitas bukan hanya dalam tataran kultur, tapi juga struktur. Mungkin secara budaya, kita sudah sangat religius. Tetapi secara peraturan daerah, misalnya, belum berpihak kepada mereka yang disebut sebagai kalangan mustadh’afin itu. Kita sudah cukup sering berbicara tentang anak jalanan. Bukan hanya dalam forum besar, seminar atau diskusi publik. LSM yang bergerak mengurusi anak jalanan juga cukup banyak, di Indonesia. Namun, sebuah fakta yang tidak terbantahkan bahwa ternyata semakin hari justru makin bertambah anak-anak kusut itu, di berba...