Posts

Showing posts from October, 2007

Huruf L Pengantar Petaka

Image
Bernas adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Jogjakarta. Pada 1990, Kelompok Kompas-Gramedia mengakuisisi Bernas menjadi bagian dari Persda, satu di antara anak perusahaannya. Karena satu huruf saja, harian ini pernah hampir digerebeg oleh massa. Sebab itulah, presisi sangat diutamakan dalam grup Kompas-Persda. Awalnya adalah ketika terbit perdana edisi berwarna. Sebelumnya, Bernas hanya terbit black-white setiap hari. Pada hari Minggu, medio 1991, diputuskan memuat berita tentang pagelaran busana di Inggris. Lalu, disepakati dengan judul ‘Pagelaran Musim Semi-Panas di Inggris.’ Dimuat dengan full color , seperempat halaman depan berisi foto para model yang cukup seksi. Pakaian minim dan penuh gebyar. Lazimnya busana musim semi dan panas di Barat. Hari Senin kondisi masih biasa. Selasa tidak ada respon berlebihan, Rabu juga adem ayem . Tiba-tiba, Kamis malam ada info dari jaringan Bernas , bahwa akan ada penyerbuan ke kantor redaksi Bernas . Malam itu berkumpul para a...

Penjaga Gawang Bahasa dan ‘Opini’

Image
Mungkin Anda adalah orang yang suka membaca rubrik Opini di Banjarmasin Post . Atau Anda pernah mencoba mengirim tulisan ke rubrik itu. Halaman rubrik itu berisi beberapa tulisan. Pertama, tajuk rencana yang menjadi suara redaksi. Kedua, kolom yang dijuduli ‘Suara Rekan’ yaitu tajuk dari koran-koran lain satu grup Kompas-Persda. Ketiga, kutipan pendapat dari masyarakat yang dimuat sesuai tema hari itu. Rubrik ini cukup berwibawa, katakanlah begitu. Menurut beberapa rekan, topik yang dimuat cukup hangat dan selalu aktual. Penyajian—yang tentunya sudah melalui proses editing ketat—juga mudah dipahami. Tampaknya, editor rubrik ini sudah ‘merenovasi’ kata-kata yang dibuat oleh penulis aslinya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Ketika mengirim tulisan dengan 700 kata, saat dimuat tinggal 500 kata. Dua ratus kata yang lain dipangkas habis. Tetapi, saya puas karena menghilangkan kalimat-kalimat yang tidak perlu. Sekaligus, saya makin penasaran dengan sosok yang menjadi penjaga gawang opi...

Silaturahim Tiga Tuan Guru

Kemarin saya bersama kameramen Fauzi OKU dan reporter Rasyidi dari TVRI Banjarmasin berkesempatan mengikuti perjalanan silaturahmi para fungsionaris PKS bersama Habib Aboe Bakar al-Habsyi. Perjalanan satu hari kemarin menuju Martapura, yang dikenal sebagai jantung religi daerah Kalimantan . Utamanya karena disanalah makam Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan, ulama dengan magnum opu s-nya: Sabilal Muhtadin. Selain itu, disana ada makam Guru Sekumpul, yaitu Tuan Guru Zaini Abdul Ghani yang telah wafat sekira dua tahun lampau. Dua ulama itu adalah icon religi di Kalimantan yang makamnya terus menerus diziarahi ummat. Ratusan orang datang setiap hari, bahkan pada malam tertentu seperti malam Jumat, banyak peziarah yang mabit (menginap) untuk membaca Yasin dan tahlil. Kunjungan kemarin itu berkenaan dengan agenda Idul Fitri. Idul Fitri menjadi momentum yang sangat berharga bagi kaum muslimin. Utamanya untuk menjalin silaturahmi. Mengunjungi sau...

Tarawih di Sela Takbir

Lebaran kali ini berbeda lagi. Ini sudah biasa. Maksudnya karena hampir setiap tahun terjadi, lalu menjadi sebuah kebiasaan. Mengutip Gus Dur, “gitu aja kok repot.” Semuanya senang asal bisa Lebaran. Malam tadi, saya berkeliling Banjarmasin. Bahkan sampai keluar kota. Ke arah Sungai Lulut dan Sungai Tabuk, kabupaten Banjar. Sengaja saya tidak tarawih jamaah di masjid, juga tidak takbiran. Salah satu misi perjalanan saya malam tadi, adalah investigasi kondisi masyarakat di tengah perbedaan hari raya ini. Ternyata, hampir seluruh langgar dan masjid di pelosok Banjarmasin—apalagi kabupaten Banjar yang basis nahdliyin—melaksanakan shalat tarawih untuk malam terakhir di bulan Ramadhan. Sama sekali tidak nampak aktivitas takbiran. Bahkan masjid-masjid besar seperti Al-Jihad di jalan Cempaka, masjid Mujahidin di Kuin dan beberapa basis Muhammadiyah yang lain tidak menampakkan aktivitas takbiran secara vulgar. Cukup menarik untuk dicatat, toleransi masyarakat kita sudah cukup matang. Say...

Maulid Habsyi dan Pak Ngadri

Image
Tadi malam saya berkeliling Banjarmasin. Sekitar jam sembilan malam, kami (saya dan satu teman) sampai di kediaman Habib Novel Husein Alaydrus. Setelah bersalaman—cium tangan bolak-balik, atas bawah—kami berbincang ringan. Bertanya kabar dan saling mendoakan. Ada tiga lelaki di sana. Semuanya memakai sarung dan peci rapi. Nampaknya habis selesai tarawih dengan 20 rakaat yang panjang. Maksud saya berbeda dengan 20 rakaat yang kilat super ngebut itu. Seperminuman teh, tiba-tiba Habib memutuskan. “Kita baca Maulid sebentar. Tiga puluh menit saja,” ucapnya berwibawa. Diawali dengan al-Fatihah. Dengan takdzim, kitab Maulid Habsyi yang berwarna hijau berukuran kecil itu dicium. Lalu bacaan maulid yang ritmis, mengalun pelan dari mulut sang habib. Diselang-selingi shalawat dari seluruh jamaah. Di saat “sholawat asyroqol”, seluruh jamaah berdiri. Seakan ruh Rasulullah hadir disana. [mohon maaf, ini jelas adalah metafora untuk menunjukkan kedekatan kami dengan sang Nabi. Jangan diartikan se...

Backpacker’s Rules

Image
Mendaki gunung bukanlah persoalan hukum, yang hitam putih, boleh atau tidak. Naik gunung juga tidak terlalu berkaitan dengan jenis kelamin sang pendaki. Mendaki gunung adalah masalah perasaan. Ketajaman mata hati, kejernihan pikiran dan inspirasi yang berlimpah. Gunung mengajarkan tentang kesejatian makna hidup dan perjuangan mencapai puncak kemenangan. Gie meninggal di puncak Mahameru dalam usia 27 tahun. Masih sangat muda. Dan dalam kemudaannya dia telah mampu berbuat banyak untuk negerinya. Meskipun secara genetik, dia bermata sipit dan berkulit terang. Sebuah pertanda fisik dia adalah seorang Tionghoa. Gie bisa mengindonesia—salah satunya—karena gunung yang dijelajahinya. Memiliki kecintaan terhadap alam: gunung, sungai, danau, lembah dan segala keelokan nusantara, akan membantu kita memahami Indonesia. Sesungguhnya, di sanalah terletak kesadaran seorang warga nusantara. Pendakian bukan hanya persoalan senang-senang, hobby, atau killing the time . Setiap posko yang dilalui mrup...

Dari Baghdad Hingga Cordova

Image
“...hari-hari untung malang Kami pergilirkan di antara manusia...” ----Qs. Ali Imran: 140 Islam bukan cuma sekedar masyarakat kerohanian, tetapi juga merupakan sebuah negara, sebuah imperium. Islam berkembang sebagai gerakan keagamaan dan politik yang didalamnya, agama menyatu terhadap negara dan masyarakat. Kepercayaan seorang muslim bahwa Islam mengemban keimanan dan politik berakar pada kitab yang dianggap wahyu Ilahi, yaitu al-Quran, beserta Sunnah dari pembangunnya dan nabinya, yakni Muhammad, sehingga kepercayaan itu tercermin dalam ajaran Islam dan sejarahnya dan perkembangan politiknya [1] . Pengungkapan itu jelas didasari pada fakta sejarah gemilang yang telah dilalui oleh ummat Islam semenjak kelahirannya pada abad ke-7 M hingga kejayaannya—secara sosial politis—pada pertengahan abad 12 M, karena pasca kehancuran Baghdad oleh Hulagu Khan, peradaban Islam dianggap mengalami kesurutan dalam dinamismenya. Ketika Islam lahir, situasi dunia saat itu sangat mendukung bagi p...

Selimut Kabut

Image
Dalam sebuah kabut, uap air yang berada dekat permukaan tanah berkondensasi dan menjadi mirip awan. Hal ini biasanya terbentuk karena hawa dingin membuat uap air berkondensasi dan kadar kelembaban mendekati 100%. Tempat yang p aling berkabut di dunia adalah Grand Banks di lepas pantai pulau Newfoundland, Kanada. Hal ini dikarenakan tempat ini merupakan pertemuan arus Labrador yang dingin dari utara dengan arus Teluk yang hangat dari selatan. Daratan yang paling berkabut di dunia terletak di Point Reyes, California dan Argentia, Newfoundland, yang diselimuti kabut lebih dari 200 hari dalam setahun. [wikipedia] Pagi dini hari tadi, pukul 02.00 saya menyusuri kota Banjarmasin. Ada yang lain kali ini. Kabut tebal menyelimuti kota. Sangat tebal untuk sebuah kota. Itu karena saya belum pernah mengalaminya. Setahu saya, kabut tebal lebih banyak ada di pedesaan atau pegunungan. Tapi, ini di tengah kota. Aneh rasanya. Kabut ini juga bukan kabut asap. Sama sekali tidak ada bau asap. Berbeda...

Bendera

Anak kecil itu. Berdiri di sela bebatuan—atau tepatnya reruntuhan sebuah bangunan tua. Celana jins kumal melekat di kaki, dipadu dengan sweater coklat tua. Tas ransel kecil menggantung di pungungnya. Mulutnya terbuka, meneriakkan sesuatu. Tangannya memegang erat sebatang kayu. Di ujung tongkatnya itu, bendera hitam-putih-hijau-segitiga merah di ujungnya berkibar-kibar. Bendera Palestina. Saya menyaksikan sebuah fragmen yang belum pernah saya jumpai di negeri ini. Anak kecil yang memegang bendera sebuah negara—yang belum diakui secara internasional—dengan kecintaan besar. Wajahnya mengguratkan hal itu. Patriotisme dan nasionalisme memang tidak perlu didiskusikan di Palestina. Mereka sudah cukup kenyang dengan segala pengalaman. Nasionalisme dan patriotisme adalah efek belaka dari wafatnya sang anak, kakak ibu atau ayah tercinta. Bom Israel meluluhlantakkan seluruh asa dan masa depan. Tapi, bukan putus asa dan keacuhan yang lahir. Justru cinta akan negara dan isinya meledak-ledak. Ka...