Posts

Showing posts from February, 2008

Bayi Telantar Itu

Image
Satu minggu ini, konsentrasi saya tercurah penuh pada satu sosok mungil yang menggemaskan. Setiap hari saya datang ke kamarnya. Membelai lembut kulitnya, mengelus rambut tipisnya, kadang mencubit pipi yang agak tembem itu. Setiap datang, saya lihat dia tersenyum manja, lalu terkekeh. Hatiku mulai jatuh cinta padanya. Sosok itu adalah bayi yang menghebohkan publik Kalimantan Selatan. Ceritanya begini. Senin (4/2) pukul 21.45 Wita, seorang wanita mengaku bernama Novia (21) yang sedang hamil tua, datang ke IGD Rumah Sakit Ansari Saleh Banjarmasin. Dia sendirian. Saat ditanya tentang suaminya, “Masih di belakang. Sebentar lagi menyusul,” ujar Novia. Lalu, ibu muda itu dimasukkan ke ruang bersalin di Ruang Mutiara B4. Selasa (5/2) subuh, ketuban sudah pecah dan proses kelahiran akan terjadi. Dalam catatan medis, tepat pukul 04.50 Wita, lahirlah seorang bayi lelaki. “Proses kelahiran sangat lancar dan spontan,” ujar bidan Helmina yang membantu proses persalinan. Tapi, para perawat melihat ke...

Ditangkap di Rumah Mertua

Image
H Saroso Sundoro SH, MSi adalah legenda hidup jurnalis Kalimantan Selatan. Sejak berdirinya SKH Banjarmasin Post pada 2 Agustus 1971, lelaki asal Lumajang ini sudah bergabung, hingga 2002 mengundurkan diri karena alasan fisik. Jumat (8/1) sebelum sholat Jumat saya berkunjung ke kediamannya yang asri di Kompleks Wildan No 31 Rt 18 Banjarmasin Tengah. Rumah yang asri dan penuh rimbun pohon. Ruang depan rumah sekaligus menjadi tempat praktek istrinya yang berprofesi sebagai bidan. Mereka menikah tahun 1974. Saat datang pertama kali ke Banjarmasin tahun 1971, Saroso diterima menjadi dosen di Akademi Administrasi Negara (AAN), dengan status pegawai negeri. Meski begitu, hobinya menulis membuatnya tetap ingin masuk ke dunia jurnalistik. “Saat itu, dibuka pendaftaran wartawan bagi koran baru, saya bergabung. Seingat saya, awalnya akan diberi nama Mimbar Demokrasi tapi tidak jadi karena di beberapa daerah sudah ada koran dengan nama serupa. Akhirnya, dipilihlah nama Banjarmasin Post ,” katan...

Robot Anti Narkoba

Image
“Gajahnya mana, Om?,” tanya Adit (4) kepada penjaga tiket. Anak kecil itu ingin naik robot gajah yang menjadi favorit. Enam robot binatang berjalan pelan di lorong lantai satu Duta Mall Banjarmasin. Ada gajah, zebra, onta, badak, sapi dan domba. Ukurannya setengah dari binatang aslinya, namun sudah cukup untuk dinaiki seorang anak. “Berat penumpang maksimal 25 kilogram,” kata Anto (25), penjaga tiket di stan Yada Toys. Pemuda itu berbaju biru lengan pendek, di punggungnya tertera tulisan “Nikmati Petualangan Yada Toys.” Yada Toys adalah perusahaan mainan yang menyewakan robot berbagai jenis binatang untuk dinaiki anak-anak. Berpusat di Jakarta dan telah membuka cabang di berbagai mall di kota besar. Untuk Banjarmasin baru di Duta Mall saja. Ada lima orang yang biasa bertugas, mereka sibuk melayani anak-anak, sambil menjalankan robot binatang. Menurut penuturan Anto, satu hari ada 80 hingga 100 anak yang menaiki robot mereka. Bahkan pada hari Minggu atau libur, mencapai 250 anak. Harga ...

Tagana Urusi Pernikahan

Image
Hendak menikah? Persiapannya tentu harus matang. Untuk sebuah resepsi pernikahan yang mengundang banyak orang, tentu harus disiapkan mulai dari tenda, makanan, dan pernik lainnya. Penyewaan perlengkapan fasilitas acara perkawinan di Kota Banjarmasin cukup banyak. Ternyata bukan hanya pihak swasta, sebuah unit teknis penanggulangan bencana di bawah naungan Dinas Sosial juga ikut menyediakan fasilitas tersebut. Satuan Unit Tagana (Taruna Siaga Bencana) yang bermarkas di Gang 20, Jalan Sutoyo S Banjarmasin Tengah, dalam waktu senggangnya menyewakan tenda dan melayani jasa memasak nasi untuk acara perkawinan dan lain-lain. Mereka sudah terlatih bongkar pasang tenda dan memasak dalam jumlah banyak pada saat pembuatan dapur umum di kantong-kantong bencana. Demikian dikatakan Rihani Amin (34), salah seorang petugas Tagana. Anggota Taruna Siaga Bencana itu menambahkan, dia bersama tim pada hari-hari tertentu melayani penyewa tenda untuk berbagai acara, dengan izin komandannya. “Kami ti...

Belajar Bertani Lagi

Kompleks mess berbentuk barak sepanjang 36 meter itu dibagi dalam delapan bidakan (kamar besar) yang berukuran 7 x 4 meter. Berdinding dan beralas kayu lapis. Sementara atapnya memakai seng. Warnanya sudah agak kusam, cat hijau yang menempel di dinding beberapa terkelupas. Di teras bangunan ada pagar setinggi setengah meter. Satu bidakan dibagi dalam tiga ruangan, kamar tamu di depan, kamar tidur di tengah dan dapur. Jumat (1/2) siang saat saya ke sana, kasur lebar dihamparkan di ruang depan rumah Hendy (29), karena kamar tidur penuh dengan perabot yang hendak dibawa pulang. Bangunan itu sudah didiami selama lima tahun bersama anak istri Hendy. Tapi, minggu depan dia sudah akan keluar dari kompleks mess karyawan PT Austral Byna itu. Barang-barangn sudah tertata rapi dalam kardus. Termasuk mainan anaknya, juga sudah masuk kotak. "Saya sedang mencari truk yang bisa mengangkut sampai Surabaya," katanya. Bapak satu anak ini termasuk yang mendapat Pemutusan Hubungan Kerja (P...

Kompleks Mess Mulai Sepi

Suasana pelabuhan kapal ferry yang biasa digunakan menyeberang oleh para karyawan PT Austral Byna, Jumat (1/2) siang tampak ramai. Biasanya, di tempat itu banyak karyawan lalu lalang yang pulang dari shift kerja malam. Tapi, siang itu justru banyak orang pindahan. Beberapa penduduk menggunakan gerobak untuk mengangkut kasur, lemari, meja kursi dan perabot rumah tangga yang lain. Barang-barang itu segera dinaikkan ke atas kelotok yang menunggu di pinggir Sungai Martapura. Kelotok penuh dengan perabotan beberapa keluarga yang satu kali angkut. Menurut salah satu penduduk, mereka yang sudah di-PHK perusahaan, akan pulang ke hulu sungai, sebagian ke Tanah Laut. “Suasana mess sudah tidak seramai dulu. Satu per satu mulai meninggalkan kompleks,” kata Hendy, salah satu karyawan. Ini menyusul keluarnya pengumuman dari perusahaan bahwa mess harus segera kosong maksimum satu bulan lagi. Jika tetap di situ pun, listrik akan diputus oleh PLN. Ketika saya sampai di kompleks mess, banyak ...