Posts

Showing posts from April, 2008

Jangan Mengemis, Nak! Itu Hina...

SEBUAH ruang di pojok belakang lantai dua Kompleks Pasar Lima Atas Banjarmasin. Ruang itu berukuran 7 x 6 meter, bercat biru di pintu dan pinggir jendelanya. Di samping kanan kirinya, berjajar kios yang kotor dan berjejal barang bekas. Di depan pintu masuknya ada penjahit yang mengerjakan ratusan lembar karung plastik. Di pintunya tertempel stiker “Prestasi Yes, Narkoba No!”. Itulah sekolah khusus anak jalanan, satu-satunya di Banjarmasin. Tadi pagi, aku menyambanginya. Untuk mencapai tempat itu, harus melewati kios pedagang yang berjejal di bawahnya. Ketika hujan turun seperti sekarang, hampir tak ada tempat yang tidak berlumpur. Meskipun tadi lantainya bersih, tetap dikotori lumpur yang dibawa alas kaki para pedagang dan pengunjung pasar. Setiap pagi, kecuali Minggu dan hari libur, belasan anak memenuhi ruangan yang berisi 30 meja dan kursi itu. Tata ruangnya benar-benar seperti sekolah dasar pada umumnya. Ada papan tulis di depan kelas, beberapa gambar pahlawan dan jadwal pelajaran...

Awalnya Video Mantenan

Tertatih-tatih, Hasbi melangkah di Pelabuhan Trisakti. Raut mukanya menunjukkan keletihan. Kuyu tak ada gairah hidup. Untung ada teman-teman sekolahnya seperti Ajay, Yudi, Andre dan Ian. Mereka menjadi ‘obat’ bagi Hasbi melupakan ketergantungannya pada narkoba. Transformasi hidup lantas dilakukan Hasbi. Dia tekun mendalami agama. Menjadi seorang santri. "Aku ingin hidup normal. Aku ingin menikmati hidup tanpa menjadi budak narkoba. Hidup yang indah dan penuh warna," kata Hasbi. Sebuah film pendek. Durasinya hanya 26 menit. Sebetulnya lumayan panjang dibanding short film yang lain. Judulnya Save Me Diary , berkisah tentang seorang anak bernama Hasbi yang kena candu narkoba. Sampai masa pertobatan melalui sebuah pesantren di Banjarmasin. Film itu ditampilkan dalam sebuah even bernama 3 Cities Short Film Festival yang digelar di Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basry, tepat di seberang kampus Universitas Lambung Mangkurat pada Kamis dan Jumat, 20-21 Maret 2008 lalu. Even itu ...

Temukan Candumu

Siang terik. Matahari menggigit. Usai liputan di lapangan yang menguras keringat, aku kembali ke kantor. Hendak naik ke lantai empat ruang redaksi. Bayanganku, ruang ber-AC yang sangat nyaman akan mengelus kulit dengan kesejukan. Sepatu kets, celana jins dan kaos berkerah kukenakan. Berjalan cepat menuju lift. Di depan pintu lift, ada bos yang juga mau naik. “Enerjik sekali kamu hari ini,” katanya. “Biasalah pak, baru mood,” balasku. Lalu kami masuk ke dalam. Hanya kami berdua. Matanya memandang ke diriku, dari atas ke bawah lalu tersenyum. “Kamu mesti segera menemukan candumu. Hidup itu butuh motivator, penyemangat. Kalau belum kamu temukan, gaya enerjikmu itu akan cepat luruh,” lanjutnya. Aku terdiam sampai lift merambat naik dan pintu terbuka. “Ingat itu, segera temukan candumu,” lanjut bos sambil melangkah keluar. Meninggalkan aku dalam ketermanguan. Pendek, hanya dua menit mungkin. Tapi, kata-katanya itu berbekas dan jadi pemantik renunganku. Benar kata bos, candu itu dibutuhkan. ...