Posts

Merdeka Ketika Bertauhid

Image
Setiap orang tentu memiliki definisi yang berbeda-beda tentang makna kemerdekaan. Ada yang mengatakan kemerdekaan identik dengan kemandirian, yaitu keterlepasan dari segala ketergantungan (dependent) terhadap sesuatu. Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), kata Bung Karno. Sementara yang lain mengatakan merdeka adalah kebebasan (freedom) untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendak hati nurani. Bebas mengekspresikan diri, bebas mengurus keperluan diri sendiri. Kata ‘merdeka’ merupakan serapan dari bahasa Sansekerta mahardhika , dalam bahasa Arab kita kenal kata daulat dan dalam bahasa Inggris adalah independent . Sementara itu, rujukan resmi segala definisi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjelaskan kata ‘merdeka’ yang artinya “bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa.” Dalam konteks kemerdekaan sekarang ini, perlu kita maknai kembali k...

‘Kemerdekaan Sejarah’ dan ‘Sejarah Kemerdekaan’

Oleh: Amin Sudarsono [1] “Cepat atau lambat, setiap bangsa yang ditindas pasti memperoleh kemerdekaannya kembali; itulah hukum sejarah yang tidak dapat dimungkiri. Hanya soal proses dan cara bagaimana mereka memperoleh kembali kemerdekaan itu yang tergantung pada mereka yang pada saat itu memegang kekuasaan.” —Moh. Hatta dalam Indonesia Merdeka, 1924. Sejarah adalah sebuah relativitas. Karena itu, memahami sebuah narasi historis memerlukan interpretasi yang kontekstual dan manyeluruh untuk menghindari pemihakan secara apriori. Sebuah teks yang diwariskan secara turun temurun sebagai transmiter historis [2] ditafsirkan menurut basis ideologi setiap narator. Biasanya, dalam sejarah sebuah bangsa, penguasa memegang otoritas kebenaran sejarah. Semata karena ada vested interest yang bermain di sana. Karena setiap ilmu tidak neutral value , melainkan value-laden (dimuati nilai-nilai). Menulis sejarah bukanlah sebuah tugas yang mudah. Berbeda dengan penulisan sejarah masa lal...

Mereka Dipelihara Lampu Merah

Tulisan di B anjarmasin Post, 1 Agustus 2007 Ketika kita berjalan melewati sepanjang Jalan Ahmad Yani, di setiap lampu merah pasti bergerombol anak-anak kecil. Pakaian mereka kusut, berdebu, dan banyak yang kedodoran. Karena memang itu pemberian orang. Itupun tak pernah dicuci. Terfikir di benak saya tentang korelasi yang ambigu antara religiusitas masyarakat Kalsel (terutama Banjarmasin) dengan kenaikan jumlah anak jalanan ini. Tentunya maksud religiusitas bukan hanya dalam tataran kultur, tapi juga struktur. Mungkin secara budaya, kita sudah sangat religius. Tetapi secara peraturan daerah, misalnya, belum berpihak kepada mereka yang disebut sebagai kalangan mustadh’afin itu. Kita sudah cukup sering berbicara tentang anak jalanan. Bukan hanya dalam forum besar, seminar atau diskusi publik. LSM yang bergerak mengurusi anak jalanan juga cukup banyak, di Indonesia. Namun, sebuah fakta yang tidak terbantahkan bahwa ternyata semakin hari justru makin bertambah anak-anak kusut itu, di berba...

Mengunjungi Jogja

Baru saja menginjakkan kaki di tanah Jogja. Kembali mengunjungi kota lama yang penuh kenangan dalam hidup saya. Separuh kedewasaan dan perkembangan pemikiran ada di kota ini. Mengenal seluk beluk pengetahuan juga di kota ini. Berkenalan dengan demosntrasi jalanan dan parlemennya juga di sini, termasuk mengenal mas Eko Prasetyo sang Muslim Kiri itu juga di sini. Semoga idealisme selalu beriring jalan dengan konsistensi. Perjalanan tadi menaiki motor dari Purwodadi. Mampir ke Solo mengunjungi markas pergerakan KAMMI, bertemu kawan-kawan yang sibuk mengawal Pilkada Jawa Tengah besok. Hari Sabtu pagi besok, rencananya mereka akan deklarasikan sebuah aliansi yang mengawal demokrasi lokal itu. Mengumpuli para aktivis membuat geliat idealisme menyala terus, minimal atmosfer pemberontakan terhadap ketidakadilan ikut mewarnai hati ini. Dua jam ngebut di jalanan dengan Jupiter, sampai di Prambanan dicegat polisi. Sempritan yang kuat memaksaku berbelok kembali, menaati hukum yang tegak berdiri it...

Menjenguk Tanah Kelahiran

Besok pagi, pukul 08.00 jika jadwal tepat waktu Insya Allah saya akan menumpangi kapal yang melayari Laut Jawa. Menyeberang ke Surabaya menaiki Kumala. Ada perasaan yang mendorong saya untuk menuliskan ini, tentang kerinduan terhadap tanah kelahiran. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). [Ali Imran 3:8]

Self Esteem, Self Confidence, Pride

Image
Ini adalah nasehat indah dari seorang sahabat... Dua orang lelaki yang datang bertamu ke rumah seorang bijak tertegun keheranan. Mereka melihat si orang bijak sedang bekerja keras. Ia mengangkut air dalam ember kemudian menyikat lantai rumahnya. Keringatnya deras bercucuran. Menyaksikan keganjilan ini salah seorang lelaki ini bertanya, "Apakah yang sedang engkau lakukan hai orang bijak?" Orang bijak menjawab, "Tadi aku kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat kepadaku. Aku memberikan banyak nasihat yang sangat bermanfaat bagi mereka. Merekapun tampak puas dan bahagia mendengar semua perkataanku. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang hebat. Kesombonganku mulai bermunculan. Karena itu, aku melakukan pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombongku itu." Para pembaca yang budiman, sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua yang benih-benihnya sering muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong sering dise...

Conscientizacao: Antara Fanatis, Naif dan Kritis

Image
“Wahai Ikhwan, sesungguhnya hari dimana di dalam dakwah kita diteriakkan yel-yel figuritas tidak boleh terjadi sama sekali” —Hassan Al-Banna [1] Suatu hari, seorang teman bertanya, ”Jika saat ini aku mendakwakan diri kepadamu sebagai seorang Rasul utusan Tuhan, bagaimana pendapatmu ?” Secara spontan saya jawab, “Non sense, Muhammad adalah khataman nabiyyin (penutup para nabi).” “Lho, kok kamu menolak. Sedangkan Abu Bakar ketika mendengar dakwa Muhammad tentang dirinya sebagai Nabi, langsung mengiyakan. Bisa saja dirimu saat ini memposisikan diri sebagaimana Abu Bakar kala itu.” Dialog singkat itu membuat saya berfikir cukup keras. Kesadaran apakah yang membingkai benak Sayyidina Abu Bakar kala mendengar kesaksian Muhammad sebagai Rasulullah, bahkan—tanpa reserve —langsung membenarkan, hingga gelar al-shiddiq melekati namanya. Tentunya proses pembenaran yang kemudian diikuti laku ketaatan, ketundukan dan anut lampah (mengikuti tradisi), memerlukan seperangkat paradigma pikir hingga...