Posts

Pulau Seribu (1): Digoncang Ombak di Teluk Jakarta

Pagi yang dingin di udara Jakarta, kami diantar Tatang Yusuf, marketing Muda Cendekia, menuju dermaga Muara Angke. Jakarta sepi sekali pagi itu, tampaknya semua orang sudah lelah berpesta malam harinya. Pesta tahun baru yang menyisakan sampah di jalan protokol dan gang-gang sempit perumahan Jakarta. Pesta yang kadang hilang makna selain hura-hura. Gembira dan bahagia tapi hidup statis dan nggak berubah. Semoga Anda, memiliki tahun baru dengan optimisme dan perubahan hidup yang lebih baik. Mobil melaju kencang, sama sekali tak ada kemacetan--langka sekali keadaan ini. Jalan tol juga lapang. Di atas fly over, semburat matahari pagi indah sekali. Warna emas memancar dari ufuk timur, muncul dari balik beton-beton gedung dan bangunan, bagai raksasa tidur berdiri. Terdiam di atas jasad kota tua yang dibangun Fatahillah ini. Pikiran saya melayang, memikirkan kota yang makin sumpek, sesak, panas dan penuh polusi. Kota ini butuh pengaturan, agar semua orang bisa hidup layak, tinggal layak dan...

Batam (3): Diskusi Jurnalis Menatap Masa Depan Kepulauan Riau

Image
Agenda utama ke Pulau Batam kemarin adalah Daurah Marhalah II KAMMI Kepulauan Riau di Kota Batam. Acaranya berlangsung sejak 23-26 Desember 2010. Aku mendapat jatah untuk menemani diskusi para jurnalis pada Studium Generale DM II yang digelar pada Kamis, 23 Desember 2010 pagi. Bersama istriku, Alwin Khafidhoh, kami berangkat menaiki Lion Air, jam penerbangan pukul 16.20 WIB. Istriku berangkat dari Bandung dan aku dari kantor PATTIRO di Tebet, karena masih menyelesaikan beberapa pekerjaan. Pukul 15.00 kami sudah bertemu di bandara. Setelah check-in, lalu makan siang (menjelang sore) di restoran dalam bandara. Ternyata, pesawat delay 45 menit. Ya, kami harus menunggu. Tapi tidak terlalu boring , karena istriku bertemu koleganya dari Bengkulu. Mereka bertemu di acara workshop IBP (International Budget Project)-nya Debbie Budlender di Bandung dulu. Pukul 17.10 kami naik, sepuluh menit kemudian terbang. Ternyata, teman sebelahku adalah seorang pelaut. Namanya Anto, dia mengaku asli...

Batam (2): Menguak Luka Lama Perang Vietnam

Image
Pernah mendengar kisah Manusia Perahu? Mereka yang menyeberangi Laut China Selatan untuk menghindari kekejaman akibat perang saudara di Vietnam pada tahun 1979. Ternyata, Indonesia menjadi penyelamat ratusan ribu manusia perahu. Berikut perjalananku bersma istriku ke sana. Masuk ke kompleks memorial manusia perahu Vietnam, kita disambut pos penjagaan berpalang. Ada petugas berseragam yang menunggu di sana. Tiketnya Rp 5.000 saja, tanpa diberi karcis. Aku nggak tahu bagaimana nasib uang ongkos masuk itu. Karena tak ada lembaran tiket yang membuktikan itu untuk retribusi pariwisata. Bisa saja masuk kekantong pribadi penjaga palang, atau ada mekanisme yang aku nggak paham. Motor yang kutumpangi bersama istri tercita melaju pelan. Setelah menempuh perjalanan 60 kilometer—dari Tanjung Piayu hingga Galang Baru—yang panas terik dan pandangan silau karena pantulan batu, kami merasakan sejuk udara di lingkung pohon dan hutan yang mengepung memorial place ini. Angin yang menerpa wajah tadin...

Batam (1): Jembatan Barelang, Tengku Fisabilillah hingga Raja Kecil

Image
Pukul 11.00 WIB, siang sangat terik di Kota Batam. Kota ini ternyata jauh lebih panas dari Jakarta. Kupikir karena tempatnya di dekat dengan khatulistiwa. Jaket yang sudah kusiapkan—dan akhirnya memenuhi tas punggungku—jarang sekali kupakai. Kaos tanpa kerah rasanya lebih nyaman. Tanahnya keras, lebih banyak batu-batuan. Benar kata teman, Batam itu gunungnya dipotong, d anaunya diurug. Kulihat masih banyak gunung setengah tegak yang menyisakan pandangan lapisan batu yang merah, hit am dan kuning cerah. Mungkin mahasiswa Geologi akan berjingkrak se nang melihat batu-batuan itu, tak perlu ekskavasi, tinggal diteliti. Ahad (26/12) siang, setelah pulang dari Singapura sore hari sebelumnya dan mengisi training dua sesi di Daurah Marhalah II KAMMI Kepulauan Riau di Kantor Pemuda dan Olahraga Kota Batam, aku dan Alwin, istriku, bertekad menghabiskan waktu satu hari untuk menelusuri jembatan Barelang, dan berziarah ke lokasi bekas manusia perahu Vietnam di Pulau Galang. Kami menaruh kop...

Bedah Buku Ijtihad di Markas WAMY Jagakarsa

Image
Selasa (31/8) sore, buku saya yang berjudul Ijtihad Membangun Basis Gerakan , dibedah di markas World Assembly Moslem Youth, di daerah Jagakarsa. Salah satu pembedah adalah Kang Tatang Muttaqin Mansyur. Dia mantan Koordinator Presidium Senat Mahasiswa Universitas Padjadjaran (SM UNPAD) 1995-1996. Sekarang, Kang Tatang bekerja sebagai Kepala Subdit Pendidikan Tinggi di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS. Hadir di bedah buku tadi, elemen ormas kepemudaan dari berbagai gerakan. Lebih lengkapnya, tulisan Kang Tatang, saya posting di sini. Banyak kritik buat buku saya, sangat membangun. Silakan menikmati... MENILIK “IJTIHAD MEMBANGUN BASIS GERAKAN” Oleh: Tatang Muttaqin Mansyur I. PENDAHULUAN Terlebih dahulu, perkenankan saya menyampaikan selamat untuk Mas Amin Sudarsono, penulis “Ijtihad Membangun Basis Gerakan” yang juga pegiat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Semoga tradisi berpikir, beraksi dan menulis semakin marak dilakukan para pegiat ge...

Labuha, Gunung Sibela

Image
Awan tipis mengitari badannya yang hitam kehijauan. Mirip saputan cat warna putih. Pagi atau siang, saputan kabut itu melekat tetap. Kecuali jika hujan yang sering kali menderu, hilang sudah awan itu. Paling indah di kala pagi, saat matahari baru muncul sepenggalah. Emas warnanya, menyemburat, menerangi Gunung Sibela yang menjadi tonggak Pulau Bacan, Halmahera Selatan. 27 Juli 2006, masih ingat aku bangun pagi. Menunggu matahari naik pelan-pelan, lalu muncullah keajaiban. Warna emas indah luar biasa. Bak cahaya merkuri menyemburat di balik tirai. Menyorot pemain teater yang berlenggok di atas panggung. Cahaya yang syahdu, mata tak berkedip memandangnya, meski bersitatap dengan cahaya amat terang. Tak lekang wajahku menghadap sinar pagi itu. Lalu, lemparkan mata ke arah kanan, Gunung Sibela tegak berdiri. Di sana masih rimbun hijau pohon. Yang kutahu hanya lereng-lerengnya saja, banyak tanaman kakao dan vanilla di sana. Warga Bacan menjemur kakao--bahan coklat yang lezat itu--di pinggir...