Posts

Showing posts from February, 2007

Habib dan Maulid Habsyi

Image
Lelaki itu bernama Habib Novel Hussein Alaydrus. Tinggi, kurus, berhidung agak mancung. Perawakan dan perwajahan yang masih berwarna Timur Tengah. Namun, kemelayuannya jelas lebih kental. Entah sudah keturunan keberapa dari Muhammad Rasulullah. Malam ini aku berjumpa dan bershalawat bersamanya. Ba’da isya menelusuri kembali jalanan menuju Sungai Tabuk, sebuah kecamatan di kabupaten Banjar. Sekitar 20 kilometer dari kota Banjarmasin. Memacu motor di sepanjang pinggir sungai Martapura, sungai besar yang menjadi pusat bagi seluruh aktivitas masyarakat. Mungkin bagi yang pertama kali datang—dan tidak terbiasa dengan peradaban sungai—akan merasa jijik, kotor dan segera menjauh. Tapi, itulah. Di sini, hidup adalah air, sekotor dan secoklat apapun airnya. Tercampur dengan berbagai benda: cair dan padat. Tidak ada setengah jam, aku sampai di sebuah rumah mungil berlantai dua. Jangan banyangkan seperti di perkotaan. Rumah ini seluruhnya terbuat dari kayu. Lantai satupun jika aku berdiri, kepala...

Eksploitasi Anak di Televisi

Tulisan ini dimuat di harian Banjarmasin Post , 26 Februari 2007. Lihat Opini. Seiring gencarnya isu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ada hal yang menggelitik saya berkaitan dengan fenomena anak usia dini (AUD). Anak kita ini, sering menjadi objek dalam dunia periklanan Indonesia, terutama di televisi. Anak memiliki potensi sesuai aslinya, yaitu kejujuran berkata, kepolosan perilaku dan apa adanya. Saat ini, iklan di televisi kian beragam. Anak baik sebagai penyampai langsung atau figuran, berupaya mengajak pemirsa untuk mengonsumsi sebuah produk. Menjadi pertanyaan, benarkah anak an sich cukup menjadi daya tarik? Produsen makanan anak akan menggunakan anak (umumnya selebritis). Begitu pula kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan dunia mereka. Di sini, anak masih dominan sebagai daya tarik. Atau dimaksudkan oleh produsen sebagai ‘pengatrol’ angka penjualan. Ada yang patut dicemaskan tentang posisi anak sebagai penyampai pesan, yakni pembudayaan berbohong kepada khalayak. Anak dilat...

The Manchurian Candidate: Konspirasi Global

Image
Kali ini aku menuliskan sebuah resensi film yang telah kutonton. Dalam beberapa kesempatan Training Sosial Politik di Yogyakarta dulu, film ini dibedah untuk mengetahui bahwa konspirasi selalu ada dalam pertarungan dunia. Judulnya adalah The Manchurian Candidate. Cerita tentang sebuah konspirasi global sebuah perusahaan ‘rekayasa geopolitik’ bernama Manchurian Global. Adalah Bennet Ezekiel Marco, seorang pemimpin sebuah pasukan perang (entah AD atau AL ) Amerika ketika Perang Teluk tahun 1991. Dalam operasi “Desert Storm” di Irak, mereka diserang secara tiba-tiba. Dan di sinilah cerita itu dimulai. Ada sebuah rekayasa tersembunyi yang dirancang sedemikian rapi, hal ini nampak kemudian. Raymond Shaw, salah seorang anak buah Mayor Marco, setelah pulang mencalonkan diri menjadi wakil presiden Amerika Serikat. Seluruh cerita tentang ‘pencucian otak’ ada di sini. Aku teringat dengan The Beautiful Mind yang menceritakan tentang penderita scizofrenia, sebuah penyakit halusinasi—bahasa il...

Sehari Bersama Aktivis

Sabtu pagi hingga malam jam 11, aku membersamai para aktivis mahasiswa. Ada lokakarya yang diikuti penggerak kampus se-Kalimantan Selatan. Aku ikut dalam komisi B, yang mengumpulkan kampus-kampus di Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara. Dalam diskusi satu hari itu, nampak ada keunikan khas lokal. Saat melakukan SWOT terhadap masing-masing daerah, diperoleh potret daerah yang menggeliat pelan menyambut modernisasi, dengan mempertahankan kearifan lokal--sekaligus memperlihatkan permainan politik penguasanya yang "religius". Pertama, presentasi dari Tanah Bumbu. Daerah ini beribukota di Batu Licin (pelabuhan besar: batubara, barang dan penumpang). Bupatinya adalah Zairullah Azhar. Katanya, Pemda memberlakukan sistem manajemen ilahiyah. Manifestasinya adalah, saat pelantikan bupati memakai sarung, seluruh siswa wajib melakukan Dzuhur berjamaah, para pegawai negeri harus sholat shubuh jamaah--akhirnya banyak yang menginap di kantor juga. Selain itu, peg...

Sholli wa Salim

Sholli wa sallim dâiman ‘alahmada 2x Wal ’ali wal ash-hâbi man qod wahada 2x Sayang-sayang-sayang, kita nggak tahu kemana pergi. Tak sanggup kita dengarkan, suara yang sejati. Langkah kita menepi, pada nafsu sendiri. Yang bisa kita pandang, hanya kepentingan sendiri. Sholli wa sallim dâiman ‘alahmada 2x Wal ’ali wal ash-hâbi man qod wahada 2x Sayang-sayang-sayang, orang pintar nggak mau ngaji. Kepala tengadah, merasa benar sendiri. Semua dituding-tuding dan dicaci-maki. Yang lainnya salah, hanya dia yang suci. S holli wa sallim dâiman ‘alahmada 2x Wal ’ali wal ash-hâbi man qod wahada 2x Sayang-sayang-sayang, orang hebat tinggi hati. Omong demokrasi, pidato berapi-api. Ternyata karena menginginkan kursi. Sementara rakyat kerepotan cari nasi. Sholli wa sallim dâiman ‘alahmada 2x Wal ’ali wal ash-hâbi man qod wahada 2x Loyang disangka emas, emasnya dibuang-buang. Kita makin buta, mana utara mana selatan. Yang kecil dibesarkan, yang besar diremehkan. Yang penting d...

Kota Seribu Huruf Hijaiyyah

Image
Semalam dari kota Martapura. Ibukota kabupaten Banjar ini sekitar satu jam perjalanan dari kota Banjarmasin, kecepatan motor standar. Jalan menuju Martapura, namanya Jalan Ahmad Yani. Nampaknya ini nama jalan terpanjang di Kalsel. Memasuki kota ini, kita akan disambut dengan tugu yang menggambarkan berlian raksasa. Tulisan "Selamat Datang di Kota Intan," juga akan kita lihat terpampang jelas di bawah tugu itu. Semua kita tahu bahwa Martapura adalah penghasil intan berlian yang termasyhur. Bisnis ini sudah berjalan sejak dahulu. Hingga kini, toko-toko intan beterbaran di pinggir jalan, mirip dengan komplek Kotagede, Yogyakarta yang di sepanjang jalan banyak berjualan silver alias kerajinan perak. Serambi Makkah Sebutan ini merujuk pada budaya religius yang sangat kental di kota ini. Terdapat sebuah komplek perguruan Islam di dekat alun-alun, yaitu pesantren Darussalam. Komplek ini bernama Sekumpul. Seluruh Borneo paham dengan teritori sakral ini. Dahulu pernah hidup Guru Zain...

Finding Forrester: Sastra dan Penulisan

Image
Tanggal 20 Februari 2005, sudah lama ya, aku menonton sebuah film yang sangat menarik. Film itu berjudul Finding Forrester . Segera setelah habis, aku menulis beberapa baris kalimat. Berisi kesan dan sinopsis versiku sendiri. Berikut ini tulisannya: “Saya merekomendasikan agar dalam sebuah training jurnalistik atau pelatihan tulis menulis, film ini diputar,” demikian jika aku memiliki otoritas untuk mengatakan. Berkisah tentang seorang penulis misterius bernama William Forrester yang hanya menulis sebuah buku selama hidupnya, dan buku itu menjadi bahan kajian bagi seluruh dunia sastra. Siapa dia, siapa keluarganya, bagaimana masa lalunya dan mengapa dia hanya menulis (untuk diterbitkan dan dibaca oleh publik) satu buku saja, yang berjudul Avalon Landing ? Semua itu adalah pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab. Tokoh kedua film ini adalah Jamal Wallace—mungkin black moslem . Seorang anak muda negro berusia 16 tahun, sekolah di sebuah SMU negeri di daerah kelahirannya—dan dibes...

Budaya, Bahasa, Lintas Banua

Image
Banjarmasin adalah kota yang plural. Menurut sensus tahun 2000 saja, penduduknya sangat beragam. Dalam sensus itu diperoleh data sebagai berikut; Suku Banjar: 417.309 jiwa, Suku Jawa: 56.513 jiwa, Suku Madura: 12.759 jiwa, Suku Bukit: 7.836 jiwa, Suku Bugis: 2.861 jiwa, Suku Sunda: 2.319 jiwa, Suku Bakumpai: 1.048 jiwa, Suku Mandar: 105 jiwa, sisanya: 26.500 jiwa belum teridentifikasi. Jumlah terbanyak tetap urang Banjar, dan peringkat kedua adalah tiyang Djawi . Sebetulnya, dalam sejarah migrasi manusia, diperoleh keterangan bahwa urang Banjar bukanlah asli Borneo (atau Banua , kata orang sini). Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya—setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan—terbentuklah setidak-tidakn...

Banjarmasin: Antara Api dan Air

Image
Menjelang maghrib, setelah perjalanan 1 jam 10 menit dari bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, aku turun dari pesawat Mandala Airlines di Landasan Ulin kota Banjarbaru. Inilah Borneo sisi selatan, bermuaranya Barito dan pertemuan Laut Jawa. Kuhirup udara Kalimantan Selatan, kuamati satu persatu manusianya, khas sosok Banjar (walaupun, ternyata banyak juga manusia Jawa-nya). Kuamati tanah dan rawa-rawanya. Bekas kebakaran hutan juga masih menghitam di sepanjang jalan Ahmad Yani. Jalan Ahmad Yani membentang melewati empat kota/kabupaten: Banjarmasin, Banjar, Banjarbaru dan Martapura. Entah berapa kilometer belum kuukur. Melewati kota Banjarbaru-Banjarmasin, yang setara jarak Jogjakarta-Delanggu Klaten, nampak masih banyak lahan kosong. Hampir seluruhnya rawa yang becek. Namun, begitu memasuki kota Banjarmasin, mulai nampak aura “modernisasi”. Baliho, plang dan gemerlap lampu menghiasi jalanan yang lebar dan dibikin satu arah. Motor dan mobil ramai bergerak melaju. Betul-betul tidak ada bed...

Simbiosis Mutualisme antara Islam dan Sosialis

Image
Tulisan ini pernah diterbitkan di Harian Radar Banjarmasin pada tanggal 3 Februari 2007. Lihat Opini . MEMBACA tulisan Fathiyah Hasanah yang berjudul ”Islam dan Sosialis Bergandeng Tangan, Relevankah Sebagai Manuver Politik Melawan Neo Imperialisme?” di koran ini (01/02), menyisakan sebuah pertanyaan fundamental. Nampaknya perlu dipertegas kembali tentang makna Islam sebagai sebuah sistem kehidupan (way of life) yang menyeluruh. Jika konsep itu disepakati, lalu bagaimana mendudukkan ideologi sosialisme yang dalam disiplin ilmu sosial berdiri sendiri sebagai sebuah ideologi? Bagaimana pula konsep interaksi dua ideologi ini, secara teologis dan politis? Memperdebatkan hal ini menjadi relevan ketika kita menyaksikan fenomena bergesernya pendulum peradaban dunia, yaitu ketika Iran berani menantang AS dengan nuklirnya, saat negara-negara Amerika Latin menggugat imperialisme modern yang dipertontonkan secara vulgar oleh AS. Islam versus Kapitalisme Secara jelas, Islam berdiri diame...

Pers, Globalisasi dan Pencerdasan Masyarakat

Image
Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Harian Banjarmasin Post , edisi 9 Februari 2007. Lihat Opini KEMBALI kita berjumpa dengan tanggal 9 Februari. Tanggal yang secara resmi diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Tanggal ini, secara historis, diambil dari saat pertama pendirian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tanggal 9 Februari 1946 di Solo. Setelah kedaulatan bangsa, PWI secara resmi berdiri di Jakarta yang selanjutnya mengkoordinir pers secara nasional. Hal ini secara langsung juga menjadi sebuah bentuk kontrol terhadap media massa selama Orde Baru berkuasa. Praktis, satu-satunya organisasi kuli tinta yang berdiri dan mendapat pengakuan negara saat itu adalah PWI. Tidak dapat dipungkiri, pernah terjadi sebuah masa dimana keanggotaan dalam PWI menjadi legitimasi bagi kewartawanan seseorang. Namun di sini penulis tidak ingin mengungkapkan atau mempertentangkan bentuk keberpihakan politik pers tersebut. Terlebih, saat ini sudah sangat banyak organisasi pers yang berdiri...

Falsifikasionisme: Skeptis Spekulatif atau Optimisme Intelektual?

Image
H ari ini belum sempat nulis. Semoga nanti malam ada kesempatan untuk mengetik. Sebagai gantinya, ada tulisan lama yang bisa dibaca-baca. DAPAT dikatakan bahwa falsifikasionisme adalah sebuah pendirian dari para peneliti dan pengamat yang skeptis dan spekulatif. Teori yang dipeganginya, diuraikan sebagai dugaan atau tebakan spekulatif dan coba-coba, yang diciptakan secara bebas oleh intelek manusia dalam mengatasi masalah yang terdapat pada teori sebelumnya. Teori spekulatif ini akan diuji secara keras dan serius melalui observasi dan eksperimen. Hanya teori yang paling cocok yang dapat bertahan. Selagi ia tidak pernah dapat dikatakan sah sebagai teori yang benar, teori tersebut—untuk sementara—dapat dianggap sebagai yang paling baik di antara yang bisa diperoleh dan lebih baik dari sebelumnya. Pendirian dan pandangan ilmiah seperti ini, secara tidak langsung menumbuhkan sikap skeptisme peneliti. Memang relativitas adalah sesuatu yang melekat pada semua hal—kecuali Tuhan, barangkali...

Imlek dan Spirit Islam

Image
Tanggal 18 Februari dirayakan oleh seluruh keturunan Tionghoa di seluruh dunia sebagai Hari Raya Imlek 2558. Bertepatan dengan tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek. Di Indonesia, berawal dari kebebasan yang diberikan Presiden Abdurrahman Wahid tahun 2000, penetapan libur fakultatif oleh Menteri Agama tahun 2001, hingga penetapan libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri melalui SK Presiden RI No 19, April 2002. Hal ini merupakan kebijakan yang toleran dan menempatkan etnis Tionghoa setara dengan warga negara Indonesia lainnya. Keputusan pemerintah ini sejalan dengan proses reformasi, setelah pada periode Orde Baru, Soeharto melakukan represi yang mendiskriminasi etnis Tionghoa. Pemerintah Orde Baru, lewat Instruksi Presiden no. 14/1967, dengan tegas melarang segala bentuk kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Alasannya yakni jika berbagai kegiatan tersebut tetap dilakukan, ditakutkan para warga keturunan Tionghoa lebih pro pada negara asalnya dibanding pada Indone...

Tulisan Pertama

Mencoba membuat lagi sebuah blog. Aku juga tak tahu akan bertahan berapa lama. Namun mencoba menyabari blog ini sebagaimana pasangan hidup yang mendampingi. Bahwa blog adalah tempat bercerita, menumpahkan kekesalan, kekhawatiran, kebahagiaan, juga berbagai rencana, cita-cita dan keinginan. Semoga bisa bertahan lama. Bismillah