Habib dan Maulid Habsyi
Lelaki itu bernama Habib Novel Hussein Alaydrus. Tinggi, kurus, berhidung agak mancung. Perawakan dan perwajahan yang masih berwarna Timur Tengah. Namun, kemelayuannya jelas lebih kental. Entah sudah keturunan keberapa dari Muhammad Rasulullah. Malam ini aku berjumpa dan bershalawat bersamanya. Ba’da isya menelusuri kembali jalanan menuju Sungai Tabuk, sebuah kecamatan di kabupaten Banjar. Sekitar 20 kilometer dari kota Banjarmasin. Memacu motor di sepanjang pinggir sungai Martapura, sungai besar yang menjadi pusat bagi seluruh aktivitas masyarakat. Mungkin bagi yang pertama kali datang—dan tidak terbiasa dengan peradaban sungai—akan merasa jijik, kotor dan segera menjauh. Tapi, itulah. Di sini, hidup adalah air, sekotor dan secoklat apapun airnya. Tercampur dengan berbagai benda: cair dan padat. Tidak ada setengah jam, aku sampai di sebuah rumah mungil berlantai dua. Jangan banyangkan seperti di perkotaan. Rumah ini seluruhnya terbuat dari kayu. Lantai satupun jika aku berdiri, kepala...