Banjarmasin: Antara Api dan Air
Menjelang maghrib, setelah perjalanan 1 jam 10 menit dari bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, aku turun dari pesawat Mandala Airlines di Landasan Ulin kota Banjarbaru. Inilah Borneo sisi selatan, bermuaranya Barito dan pertemuan Laut Jawa. Kuhirup udara Kalimantan Selatan, kuamati satu persatu manusianya, khas sosok Banjar (walaupun, ternyata banyak juga manusia Jawa-nya). Kuamati tanah dan rawa-rawanya. Bekas kebakaran hutan juga masih menghitam di sepanjang jalan Ahmad Yani. Jalan Ahmad Yani membentang melewati empat kota/kabupaten: Banjarmasin, Banjar, Banjarbaru dan Martapura. Entah berapa kilometer belum kuukur.Melewati kota Banjarbaru-Banjarmasin, yang setara jarak Jogjakarta-Delanggu Klaten, nampak masih banyak lahan kosong. Hampir seluruhnya rawa yang becek. Namun, begitu memasuki kota Banjarmasin, mulai nampak aura “modernisasi”. Baliho, plang dan gemerlap lampu menghiasi jalanan yang lebar dan dibikin satu arah. Motor dan mobil ramai bergerak melaju. Betul-betul tidak ada beda dengan kota Semarang—yang juga kota pelabuhan.
Di sini, aku mulai melihat kenyataan. Banjarmasin kukira adalah sebuah kota religius dengan seperangkat budaya khas suku Banjar dan Dayak. Ternyata modernisasi menyeruak begitu luas. Masuk juga ke seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Benar kata buku Michael Jordan dan Neo-Kapitalisme Global, bahwa “semakin tinggi satelitnya, semakin rendah peradabannya”. Modernisasi diterjemahkan dengan budaya hip-hop, pub, cafe, diskotik, billiard. Juga pakaian ketat, seksi dan gebyar warna-warni.
Banjarmasin kota dermaga-pelabuhan mirip Semarang. Tapi, masyarakatnya lebih plural dan modern. Sangat jarang aku jumpai perempuan yang berjilbab di
Sungai adalah denyut nadi masyarakat Banjar. Mirip dengan suku Kutai yang kujumpai di Kutai Kartanegara, saat September 2004 aku ke Kalimantan Timur. Dan peradaban sungai ini sebetulnya terjadi di seluruh penjuru dunia. Mulai Huangho di China hingga Tigris Eufrat di Mesopotamia, termasuk juga Nil yang termasyhur itu. Manusia menggantungkan seluruh hidupnya dari sungai, terutama adalah sebagai jalur transportasi. Di sini, orang mencuci baju, pakaian, beras, bahkan buang air seluruhnya di sungai. Yang terbesar jelaslah Sungai Barito. Selain itu terdapat cabang-cabangnya seperti sungai Martapura, sungai Miai, dll yang belum kuhafal namanya.
Jaringan transportasi air merupakan bagian utama yang menjadi urat nadi dan pendorong tumbuh dan berkembangnya Kota Banjarmasin. Kota berpredikat “Seribu Sungai” ini terbangun dan membangun dirinya bermula dari aktivitas pelayaran sungainya. Kota yang diperkirakan mulai berdiri pada perempat kedua abad ke-16 ini awalnya dibangun di daerah muara tepian sungai Kuin dan Alalak dengan ditandai berdirinya “kraton” Kesultanan Banjarmasin. Daerah itu semula merupakan perkampungan orang Melayu. Sejak tahun 1956 hingga kini Banjarmasin menyandang predikat ibukota provinsi Kalimantan Selatan.
Itulah, air menjadi inti kehidupan urang Banjar. Misalnya dalam masalah pendirian rumah [ini murni dalam perspektif diriku sebagai wongDjowo). Di Jawa, orang mau bikin rumah jika tanahnya becek maka akan diurug dengan tanah liat. Sementara di Banjar, orang mau bangun rumah justru digali biar bisa dikasih tiang bawahnya. Hampir semua rumah di Banjarmasin memiliki kolong rawa yang becek. Airnya mungkin cuma 10-20 cm saja, namun itu seakan menjadi syarat. Pertama kali lihat aku juga heran, bangun rumah, setengah badannya berada di atas sungai.
Untunglah, di Kalimantan ini ada kayu ulin. Kayu sekuat besi yang jika direndam dalam air tidak menjadi lembek atau rusak, tapi malah semakin keras. Jadilah kayu ulin sebagai tiang penyangga rumah panggung khas Banjar itu.
Api: Musuh Abadi
Di kota Banjarmasin ini, setiap RW memiliki BPK, singkatan dari Barisan Pemadam Kebakaran. Setiap BPK memiliki mobil pemadam dengan modifikasi sendiri. Semua dilengkapi dengan alat penyemprot air, tangga dan piranti layaknya pemadam profesional. Pemerintah tentu saja memiliki pemadam kebakaran resmi, namun masyarakat secara swadaya--dengan bentuk iuran bulanan rutin--mengupah pasukan berani mati ini. Dan, sudah lazim diketahui jika
Kira-kira apa sebabnya? Aku menyadari hal itu, saat hari ketiga sampai di
Aku segera keluar rumah, tetangga-tetangga juga melakukan hal yang sama. Sambil menguap dan kucek-kucek mata, mereka pegang HP. Menelfon kerabat, kenalan, teman dan sahabat yang sekiranya berada di sekitar lokasi. Bahkan telpon rumah juga berdering. Semua orang saling menanyakan kabar, "apakah rumahmu yang terbakar?" Jika jawabannya tidak, mereka segera cek nama lain di HP itu.
Aku baru sadar, ternyata kejadian seperti ini--kebakaran rumah, toko atau kios—seringkali terjadi. Bahkan satu minggu sekali, terlebih saat lampu padam. Bagi masyarakat Banjarmasin, hal seperti ini adalah sebuah bencana (bala'). Karena itu, setiap selesai shalat, mereka selalu membaca doa tolak balak. Doa yang diucapkan sembari membalik telapak tangan, sebagaimana diajarkan Rasul, memohon agar bencana dihilangkan dari kampung ini.
Kok bisa ya, kebakaran sering terjadi? Batinku bertanya. Kata urang Banjar, karena lilin yang jatuh atau obat nyamuk, atau puntung rokok. Jika lilin, biasanya karena ditinggal guring (tidur, bhs Banjar). Nah, ini keteledoran. Tapi kok sering? Ya, karena rumah urang Banjar banyak dari kayu. Atapnya sirap ulin, lantainya juga, dinding tak jauh beda. Begitu terbakar, kayu ulin (atau biasa disebut kayu besi), cepat terbakar. Habislah rumah itu.
Itulah Banjarmasin. Air adalah denyut nadi kehidupan, sedang api adalah musuh abadi paling ditakuti.[]
Memang begitulah kota Banjar. Semoga antum betah disana. Bisa memberi kontribusi maksimal bagi dakwah di Kalsel.
ReplyDelete