Posts

Dengarkan Kata-kataku

Image
Secepat mungkin engkau harus berhenti menghabiskan nafas di luar Kenikmatan dunia sering membuat lena Tak ada yang dapat mencegah selain engkau sendiri Sebelum terjerumus makin jauh sebaiknya engkau berhenti Secepat mungkin engkau harus pulang menghabiskan mimpi yang hilang Kenyataan hidup terkadang menyakitkan tak ada yang mampu merubah selain engkau sendiri Sebelum senja merebut mentari sebaiknya engkau berhenti Secepat mungkin engkau harus padamkan bara api panas membakar Gemerlap cahaya akan segera sirna bersama turunnya senja Dengarkanlah dengan hatimu Jangan engkau dengar dengan jiwa buta Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau melihat siapa aku Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau meliahat siapa aku Dengarkanlah dengan hatimu.[*] *** Sekali lagi, Ebiet menyadarkan kita. Pilihan hidup itu harus berpihak pada nurani. Labirin hati ini kita sendiri yang tahu kemana arahnya. Orang lain tak ada yang mampu membaca siapa dan bagaimana kita. Kembali pada nurani itu petunjuk yang paling ...

Cita-cita Kecil si Anak Desa

Image
Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku Luas kebunku sehalaman akan kutanami buah dan sayuran Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan Aku pasti akan hidup tenang jauh dari bising kota yang kering dan kejam Aku akan turun berkebun mengerjakan sawah ladangku sendiri dan menuai padi yang kuning bernas dengan istri dan anakku Memang cita-citaku sederhana, sebab aku terlahir dari desa Istriku harus cantik lincah dan gesit tapi dia harus cerdik dan pintar Siapa tahu nanti aku akan terpilih jadi kepala desa kan kubangkitkan semangat rakyatku dan kubangun desaku Desaku pun pasti mengharap aku pulang Aku pun rindu membasahi bumi dengan keringatku Tapi semua itu hanyalah tergantung padanya jua Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita[*] *** Demikian Ebiet G Ade membuat lagu. Judulnya juga sederhana, Cita-cita Kecil si Anak Desa . Isinya dan substansinya tak sesederhana judulnya. Visi besar terka...

Dia Terlelap di Rumah Baru

Image
Inilah kisah perjalanan seorang bayi yang dibenci oleh ibu kandungnya. Buah hati yang ditelantarkan pemiliknya, setelah dikandung sembilan bulan bersakit-sakit. Kisah tentang bayi telantar di Rumah Sakit Ansyari Saleh. Setelah hampir empat bulan menginap di rumah sakit milik pemerintah Kalsel itu, Senin (2/6) kemarin, dia diserahkan pada orangtua asuhnya. Ini kisahnya. SEDIH - Perawat Helmina menangis haru saat perpisahan dengan bayi Ansyari Saleh MATA Helmina memerah. Tangannya memeluk erat tubuh bayi Ansyari Saleh. Tak henti-henti, bibirnya mencium wajah dan leher bayi laki-laki itu. Akhirnya tangis pun pecah. Seluruh perawat di Ruang Bayi Merah Delima RS Ansyari Saleh Banjarmasin larut dalam tangis. “Saya sedih sekaligus senang. Sedih karena akan ditinggal anak yang berbulan-bulan kami rawat. Tapi juga senang, akhirnya bayi ini punya rumah tempat dia pulang. Saya janji akan sering menengoknya,” kata Kepala Ruang Bayi Merah Delima tersebut. Bayi yang telah tinggal orangtuanya empat b...

Jalan Panjang Bayi Telantar

Image
SAYANG - Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Kalsel, Bachriar Hanafi menggendong bayi telantar Ansyari Saleh setelah acara serah terima. Senin, 4 Februari 2008 . Pukul 21.45 Wita , seorang ibu yang sedang hamil tua datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Ansyari Saleh Banjarmasin. Dia mengaku bernama Novia. Usianya masih muda, ciri fisiknya menurut kesaksian para perawat: berkulit putih, tinggi sekitar 160 sentimeter, berwajah oval, rambut lurus agak bersemir merah di tepinya, mata sipit dan kuku terawat. Pukul 22.00 Wita, Novia dimasukkan ke Ruang Bersalin Mutiara. Di sana dia menunggu detik kelahiran jabang bayi. Selasa, 5 Februari 2008. Pukul 04.50 Wita (berdasar catatan medis), jabang bayi lahir. Sejak itu sampai Novia pergi, bayi itu sama sekali tak disentuh ibunya. Rabu, 6 Februari 2008 . Pukul 19.00 Wita , perawat di ruang bersalin terkejut, Novia sudah raib dari ruangannya. Tak ada jejak yang ditinggalkannya, kecuali tanda tanya yang besar. Rabu, 13 Februari 200...

Berjumpa Raihan

Image
KESEMPATAN LANGKA--Sabtu (31/5) malam, kelompok nasyid Raihan tampil di Gedung Sultan Suriansyah Kayutangi Banjarmasin. Che Amran, juru bicara Raihan , berhasil kami gaet untuk diwawancarai. Kesempatan langka berjumpa penyenandung album Demi Masa ini. Ternyata, Che Amran orang yang sangat low profile . Tutur katanya lembut dan berisi.

Usup Tak Pernah Dapat BLT

Image
Namanya Usup (55). Bukan hanya namanya yang pendek, rejekinya pun sampai saat ini masih pendek. Tak pernah ada bantuan pemerintah bernama BLT mampir di rumahnya. Minggu (25/5) siang, saat saya bertamu ke rumahnya, dia bersila di lantai rumahnya yang seluruhnya dari kayu. Warna biru cat rumah itu sudah kusam. Berbeda dengan rumah di kanan kirinya yang seluruhnya terbuat dari tembok semen dan bercat oranye cerah. Siang itu, perangkat kerjanya berhamburan. Ember hitam berisi air, besi penjepit, satu kotak berisi perangkat reparasi motor, dan ban bekas yang dipotong kecil-kecil. Usup menjalani hidup dengan matapencaharian sebagai tukang tambal ban. Di beranda rumahnya yang hanya seluas 1,5 x 4 itu, dia menerima orderan tambal ban. “Kadang jika kosong, saya mengojek juga. Hanya di depan sini saja,” ujar Usup sambil menunjuk sebuah sepeda motor Honda tua. Plat nomornya bahkan sudah kadaluwarsa. Usup mengaku tak ada biaya untuk perpanjangan surat-surat kendaraan itu. Dalam satu hari, kadang ...

Katanya, Lelah Jadi Wartawan...

Hampir lima tahun tak bersua, akhirnya saya bertemu dengan seorang kawan lama di kereta api saat perjalanan pulang dari Purworejo-Jakarta. Nostalgia pun mewarnai pertemuan kami saat itu. Saling mengenalkan anak-istri kami, tukar kartu nama, basa-basi, dll. Di tengah perbincangan tiba2 sebuah ucapan mengejutkan terlontar dari mulut kawan tsb. "Saya sudah lelah jadi wartawan, Wan," katanya. "Gila!," pikir saya dalam hati. Ada apa gerangan dengan kawan saya ini? Padahal dia sudah eksis di dunia tulis menulis sejak awal tahun 90-an. Saya pun tahu betul semangat kawan ini, dan bagaimana dia mampu menjelajah dari desk yang satu ke desk lainnya, semua dilahapnya. Multi tasking banget! Perbincangan semakin memanas hingga akhirnya kami memutuskan melanjutkan obrolan di sambungan gerbong kereta. Spot paling ciamik untuk melanjutkan obrolan berpadu dengan berbatang-batang rokok. Intinya, profesi kuli tinta yang dulu dibanggakannya kini tak lagi memberikan kepuasan batiniah-ny...